Pasien Positif Covid-19 di Sidoarjo 986 Orang

Pasien Positif Covid-19 di Sidoarjo 986 Orang

Pasien Positif Covid-19 di Sidoarjo 986 Orang

JawaPos. com –Jumlah pasien positif Covid-19 di Sidoarjo, Jawa Timur, mencapai 986 orang setelah pada Senin (15/6) ada penambahan lagi 29 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Syaf Satriawarman seperti dilansir dari Antara mengatakan, masih ditemukan kasus baru pasien positif Covid-19. Penambahan sebanyak 29 orang itu di antaranya di Kecamatan Sidoarjo dua  orang, Buduran satu orang, Candi tiga orang, Gedangan dua orang, Porong satu orang, Taman empat orang, Wonoayu dua orang, dan Tulangan dua orang. Selain itu, Kecamatan Krian tiga orang, Prambon satu orang, Sedati dua orang, Waru empat orang, dan Balongbendo dua orang.
”Untuk pasien sembuh pada Senin (15/6) lumayan banyak mencapai 26 orang sehingga jumlah totalnya sekarang mencapai 150 orang pasien sembuh, ” kata Syaf Satriawarman.

Penambahan konfirm meninggal, kata dia, ada dua orang berasal dari Kecamatan Tulangan dan Kecamatan Sedati. Untuk kasus orang dalam pemantauan bertambah 17 orang menjadi 1. 248 orang dan pasien dalam pengawasan sebanyak 593 orang.

Wakil Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sidoarjo Kombespol Sumardji menambahkan, pihaknya telah menyalurkan jamu herbal untuk masyarakat yang terpapar virus korona jenis baru itu. ”Jamu herbal yang disalurkan itu merupakan bantuan dari Kapolda Jawa Timur. Jamu herbal itu diharapkan bisa membantu meningkatkan imun masyarakat sehingga tidak mudah sakit, ” ucap SUmardji.

Sementara itu, kasus baru pasien positif Covid-19 di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, melonjak tajam. Senin (15/6) tercatat tertinggi selama pandemi Covid-19 berlangsung dengan total tambahan sebanyak 38 orang. Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Gresik Saifudin Ghozali mengatakan, tingginya tambahan positif  Covid-19 itu sesuai prediksi. Sebab, pihaknya melakukan tes masal secara masif kepada beberapa pasien yang berstatus dalam pengawasan.

Selain itu, kata dia, tingginya penambahan kasus bertujuan untuk menyelesaikan klaster besar jilid II, seperti Klaster Surabaya, Sidowungu, Sampoerna, dan Pabean. ”Lonjakan kasus juga untuk menyelesaikan klaster baru, yaitu klaster Pasar Gresik dan Pasar Benjeng, ” kata Saifudin Ghozali.

Selama pandemi berlangsung, di Gresik penambahan kasus positif tertinggi hanya sampai 19 pasien dan itu terjadi pada Selasa (9/6). ”Untuk Senin (15/6), tambahan positif sebanyak 38 orang. Mereka berasal dari klaster Surabaya 7 orang, klaster Pasar Gresik/Krempyeng 1 orang, klaster Pasar Benjeng 14 orang, klaster Pasar Pabean 6 orang, dan klaster Sampoerna 3 orang. Sebanyak 7 pasien klasternya masih dalam pendalaman Tim Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Gresik, ” terang Saifudin Ghozali.

Saksikan video menarik berikut ini:

Terang Ini, Kedua Penyerang Novel Baswedan Sampaikan Nota Pembelaan

Terang Ini, Kedua Penyerang Novel Baswedan Sampaikan Nota Pembelaan

JawaPos. com –   Dua terdakwa penyiraman air berlelah-lelah terhadap Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis bakal menjalani sidang dengan agenda pengajian nota pembelaan atau pledoi pada Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Senin (15/6). Kedua terdakwa rencananya akan hadir di persidangan.

“Agenda pembacaan pledoi oleh tersangka RB dan RK. Kedua terdakwa hadir secara fisik di persidangan, ” kata Humas PN Jakarta Utara, Djuyamto dikonfirmasi, Senin (15/6).

Masyarakat yang ingin memantau jalannya proses persidangan sanggup melihat melalui kanal YouTube PN Jakarta Utara. “Rencananya pukul 14. 00 WIB, ” jelas Djuyamto.

Sebelumnya, terdakwa urusan penyiraman air keras terhadap pemeriksa senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, Ronny Bugis & Rahmat Kadir Mahulette dituntut mulia tahun pidana penjara. Jaksa menghargai, Ronny dan Rahmat terbukti melaksanakan penganiayaan berat terhadap Novel.

“(Menuntut, Red) Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa dengan hukuman pidana selama satu tahun, ” kata Jaksa Fedrik Adhar membacakan surat tuntutan di Pengadilan Daerah Jakarta Utara, Kamis (11/6).

Dalam pertimbangan Jaksa, peristiwa yang memberatkan Ronny dan Balasan dinilai telah mencederai institusi Polri. Sedangkan hal yang meringankan, keduanya berlaku sopan selama persidangan serta mengabdi di institusi Polri.

Implementasi Protokol Kesehatan Ojol Kunci Menyekat Penyebaran Covid-19

Implementasi Protokol Kesehatan Ojol Kunci Menyekat Penyebaran Covid-19

JawaPos. com – Pemakai sepeda motor, khususnya ojek online (ojol) sudah diperbolehkan beroperasi mengangkut penumpang di masa pandemi Covid-19.

Namun, pengguna tetap menerapkan protokol kesehatan, serta mengacu pada Peraturan Kementerian Perhubungan Cetakan 41 Tahun 2020 tentang Pengoperasian Transportasi dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19.

Ketua Hijau Doctors Network Indonesia, Andi Khomaini mengamini hal tersebut dengan menerapkan protokol kesehatan. Di samping tersebut, para ojol juga harus menerapkan perilaku hidup bersih dan bugar pada masa pandemi Covid-19. Hal ini merupakan panduan penting untuk pengemudi dan penumpang agar tidak menularkan atau pun tertularkan.

“Kalau penumpang dan pengemudi ojek masing-masing menerapkan protokol kesehatan tubuh maka tidak akan ada dengan tertular dan menularkan, ” ujar Andi di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (13/6).

Andi mengingatkan dalam masa adaptasi kultur baru, bagi para penumpang serta pengemudi diharapkan untuk selalu memakai masker, cuci tangan dan menggunakan helm sendiri yang memiliki penghabisan di bagian wajah.

“Penerapan protokol kesehatan pada ojol dengan menggunakan masker, sering cuci tangan dan menggunakan helm milik sendiri yang mempunyai penutup di bagian wajah, hal ini tentunya meminimalisir penularan Covid-19, ” sebutan Andi yang merupakan Dokter Spesialis Penyakit Dalam.

Tatkala itu, Adilla Lestari pengemudi ojol menyatakan sejak diperbolehkan beroperasi kembali pengemudi ojol telah menerapkan aturan kesehatan.

“Pengemudi dibekali hand sanitizer dan masker, kalau ada penumpang yang tidak membawa masker, kami pun akan menyerahkan masker untuk penumpang, selain itu helm yang digunakan yang memiliki penutup dibagian wajah, ” membuka Adilla.

Adilla menambahkan, operator ojol juga memberikan partisi yang dipasang diantara pengemudi dan penumpang agar menghindari penularan Covid-19.

“Kami diberikan partisi yang dipasang di punggung pilot sebagai pembatas. Selain itu, motor disemprotkan disinfektan secara rutin & pembayaran lebih banyak menggunakan kekayaan elektronik daripada tunai, ” pungkasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Penyelamatan Pasien Positif, Tenangkan Keluarganya yang Menentang

Penyelamatan Pasien Positif, Tenangkan Keluarganya yang Menentang

Rapid test masal yang berlangsung setiap keadaan di Surabaya melibatkan banyak sumber daya manusia. Berhadapan dengan masyarakat setiap hari membuat mereka esktrasabar. Apalagi jika orang-orang tersebut berulah saat hendak menjalani tes.

GALIH UTAMA PRASETYO, Surabaya

Hazmat dan masker tidak pernah lepas dari tubuh Mahmudi zaman bertugas. Anggota Tim Reaksi Lekas (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Wilayah (BPBD) Jatim itu kini mempunyai tugas tambahan. Ikut serta di dalam rapid test masal yang diadakan Badan Intelijen Negara (BIN).

Mahmudi merupakan satu di antara puluhan personel yang terkebat dalam rapid test masal. Sebelum pandemi, dia banyak berkecimpung dalam dunia kebencanaan. Dia biasa berangkat ke daerah lain saat terjadi bencana. Misalnya, gunung meletus, banjir, atau tanah longsor.

Pagi-pagi sekali dia harus jadi. Sebab, tes dimulai pukul 07. 00. Sebelum waktu itu, tempat harus berada di tempat tes masal.

Kemarin rapid test masal dilaksanakan di Pekerjaan Margorejo Indah. Mahmudi langsung menyesuaikan diri, bergabung di posnya. Mobile, mulai rapid test, swab test, hingga evakuasi warga yang bermaksud dikarantina. ”Ikut mengondisikan juga siapa-siapa yang positif dan akan dikarantina, ” paparnya kemarin.

Selama bertugas, tentu banyak peristiwa yang dialami Mahmudi. Tantangan terberat saat rapid test dan paling sering dialami adalah warga yang takut saat akan diambil pembawaan. ”Bahkan sampai kewalahan kalau tersedia yang berontak hingga menangis, ” katanya.

Kalau telah begini, pendekatan psikologis paling pintar. Mahmudi memberikan penjelasan kepada masyarakat dengan bahasa yang paling barangkali dipahami. Termasuk menerangkan tujuan rapid test yang diikuti. Biasanya, cara tersebut manjur untuk menenangkan warga yang hendak dites.

Tidak berhenti di situ, kadang-kadang ada juga warga yang ogah ikut tes. Mereka khawatir hasilnya positif. ”Banyak alasan saat warga menolak untuk dites rapid. Mereka takut dikucilkan kalau reaktif ataupun positif Covid-19, ” paparnya.

Begitu juga saat tempat bertugas mengevakuasi warga yang positif. Paling sering keluarga pasien mendatangi evakuasi tersebut. Mereka enggan jika anggota keluarganya dinyatakan positif & harus dikarantina.

Keterlibatannya pada penanganan Covid-19 memang penting. Namun, stigma negatif sempat menjelma di lingkungan rumahnya. ”Saat awal-awal tugas, banyak warga yang khawatir. Sebab, saya lebih banyak berinteraksi dengan warga, baik yang reaktif atau bahkan positif, ” katanya.

Memang ada ketakutan bagi Mahmudi. Namun, hal itu tidak mengurungkan semangatnya untuk bekerja. Kekhawatiran dikucilkan akhirnya hilang. Tempat meyakinkan warga bahwa apa dengan dia lakukan tetap aman. Tercatat menunjukkan hasil tes yang sudah dia jalani. ”Setelah itu, warga malah memberikan support. Begitu selalu keluarga saya. Mendukung penuh barang apa yang saya lakukan, ” rata bapak satu anak itu.

Selain petugas yang berharta di garis depan, ada pula petugas yang berperan di setiap akhir penyelenggaraan rapid test. Lengah satunya sanitarian yang berurusan secara penanganan limbah medis di pada setiap lokasi tes cepat.

Sanitarian berasal dari berbagai puskesmas di Surabaya. Salah satunya merupakan Breny Trasmianto, sanitarian dari Puskesmas Medokan Ayu. Dia bertugas di lokasi rapid test masal dalam Lapangan THOR, Kamis (11/6).

Benry mengatakan, mereka bekerja paling akhir saat rapid test. Memastikan baju hazmat, masker, menyarung tangan, dan peralatan medis sekali pakai tidak berceceran dan terbuang di tempat biasa.

Saksikan video menarik beserta ini:

Rencana Calon Jamaah Haji yang Tertunda karena Pandemi Covid-19

Rencana Calon Jamaah Haji yang Tertunda karena Pandemi Covid-19

Keputusan pemerintah untuk tidak memberangkatkan jamaah haji tahun ini mengejutkan Supriyanto. Ikhlas dan tawakal menjadi kunci keyakinannya bahwa rencana yang jauh lebih baik sedang dipersiapkan oleh Sang Mahakuasa.

M. AZAMI RAMADHAN , Surabaya

Tangan Supriyanto gemetar, matanya berkaca-kaca. Pandangannya lekat di smartphone-nya yang menayangkan live streaming suasana Masjidilharam di Makkah Selasa malam (9/6). Pada musim haji mendatang, seharusnya dia tidak cuma bisa memandangi lokasi itu sebab layar smartphone, tapi juga menjejakkan kaki dan merasakan langsung suasananya.

Sayang, pandemi Covid-19 berandil besar menggagalkan keinginannya segera menutup ibadah haji. Tahun ini negeri memutuskan untuk tak memberangkan jamaah haji ke Arab Saudi lantaran pandemi yang belum menunjukkan isyarat mereda.

Keinginan abu tiga anak itu pun tertunda. Meski gagal melaksanakan rukun Agama islam kelima tersebut, pria 56 tarikh itu memilih ladang kebaikan yang lain. Mengabdikan diri pada kemanusiaan, menjelma relawan penanggulangan Covid-19 di desanya, Janti, Waru, Sidoarjo.

Supriyanto ingat betul detik-detik masa mendengar dan membaca informasi tentang keputusan peniadaan ibadah haji tahun ini. Saat itu, dia memasukkan perkembangan melalui salah satu tumpuan televisi nasional. Bagi dia, fakta itu benar-benar mengejutkan. Tapi, dia telah berusaha menata hati buat menerima keputusan tersebut sejak April.

”Tahunya dari informasi kalau dua kota suci di-lockdown sama (Arab) Saudi. Dari danau mulai belajar ikhlas, ” cakap Supriyanto yang seharusnya berangkat ke Tanah Suci bersama kloter (kelompok terbang) 2 Bandara Juanda. Semenjak saat itu, Supriyanto berusaha pasrah dan berpikir positif. Sebab, patuh dia, keputusan lockdown oleh negeri Arab Saudi tersebut merupakan metode yang tegas untuk memutus ceroboh rantai persebaran virus korona terakhir.

Berita-berita tentang Makkah dan ibadah haji selalu dicarinya. Untuk mengobati kerinduan terhadap Masjidilharam dan Makkah, dia selalu memasukkan streaming di YouTube. ”Mulai Mei itu saya sudah meyakini jika tidak bakal dilanjut. Kalaupun dibuka, risiko dan mudaratnya jauh lebih besar, ” jelas supervisor lengah satu pabrik di Waru tersebut. ”Eh ternyata benar, ditiadakan. Awalnya tidak percaya, tapi ya telah, ” imbuhnya sembari memandang live streaming situasi Kakbah.

Dia juga mencoba untuk menenangkan hati. Salah satu alasan masuk akal yang dia pikirkan adalah tentang persiapan pelaksanaan haji jika pasti dilanjutkan. Tidak mungkin dipersiapkan cuma dalam waktu singkat. Belum lagi untuk transportasi, penginapan, makanan sehari-hari, kata dia, pasti ada sterilisasi seperti di Indonesia.

Karena itu, alih-alih khusyuk malah bingung dengan langkah antisipasi sirkulasi virus jika ibadah haji langgeng terselenggara. ”Belum lagi tenaga kesehatannya. Ya, lebih baik ditutup selalu sampai benar-benar aman, ” ujarnya.

”Saya yakin Gusti Pangeran menuntun kita dalam situasi yang baik. Ada rencana yang lebih baik lagi dari-Nya, ” ucapnya.

Dia melahirkan, ada hikmah dari setiap perihal. Selain untuk belajar lebih tekun, dia berpeluang besar bisa melihat cucu ketiganya lahir.

”Alhamdulillah, saya bisa dampingi bujang saya melahirkan nanti. HPL (hari perkiraan lahir) diprediksi akhir Agustus. Ini yang saya syukuri, ” tuturnya, lantas tertunduk. Bagi Supri, berada di sisi anak dengan melahirkan itu kebahagiaan tersendiri.

Jika berangkat akhir Juli nanti, tentu dia tidak mampu bertemu dan melihat orok daripada anak perempuan keduanya itu. Namun, karena keberangkatan ditunda, dia saat ini jauh lebih bersyukur. Ketika disinggung tentang perkembangan haji dan severe acute respiratory syndrome coronavirus dua (SARS-CoV-2) yang membuat pemerintah Saudi mengkaji untuk mengurangi jumlah jamaah hingga sekitar 100 ribu orang, dia tetap berpikir positif.

Menurut dia, adanya virus yang menyerang saluran pernapasan tersebut tetap patut disyukuri. Beruntung, introduksi dia, umat manusia ini sedang diberi virus. Artinya, manusia sedang bisa berupaya untuk menanggulangi persebaran virus tersebut. Bagaimana, lanjut tempat, jika Allah memberi ujian lainnya.

”Ndanio loh, mujur ini masih Covid. Gimana jika yang lain? Sudahlah, bagi aku, ini momen memperbaiki diri & lebih mensyukuri hidup, ” sahih Supriyanto sembari mendengarkan informasi daripada handy talkie di posko pencegahan dan pengendalian Covid-19 di Balai Desa Janti.

Saksikan video menarik berikut ini:

Monique Elizabeth, Dosen Peneliti Standar Awak Ideal di Masyarakat

Monique Elizabeth, Dosen Peneliti Standar Awak Ideal di Masyarakat

Setiap perempuan menginginkan tubuh ideal. Hal itu mendasari Monique Elizabeth Sukamto untuk melakukan penelitian terkait standar tubuh ideal di masyarakat. Hasilnya, ratusan remaja perempuan di Surabaya mengalami tekanan sosiokultural.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

’’Eh, kamu gendutan ya. ” Kalimat itu kerap kali membuat sebagian besar hawa merasa tidak percaya diri. Makin, perempuan yang memiliki berat awak berlebih sering dilabeli dengan julukan Ndut.

Ya, standar tubuh ideal di masyarakat terkadang justru membuat perempuan mengalami tekanan sosiokultural. Hal itu dibuktikan menggunakan penelitian oleh Monique Elizabeth Sukamto, dosen psikologi Universitas Surabaya (Ubaya).

Monique melakukan pengkajian kepada 479 remaja perempuan di Surabaya. Hasilnya, sebagian besar muda tersebut mengalami tekanan sosiokultural. Itu merasakan dampak negatif hingga traumatis akibat mendapat tuntutan standar tubuh ideal dan penampilan dari keluarga, teman, maupun media sosial.

”Dan ini banyak terjadi di kalangan remaja sekarang. Selain itu, sangat berpengaruh pada kelanjutan psikologis remaja, ” katanya.

Menurut dia, evaluasi individual yang negatif pada remaja mampu muncul karena adanya persepsi seseorang mengenai tubuh ideal yang bertentangan dengan bentuk tubuh asli dengan dimilikinya.

Tekanan sosiokultural bisa memberikan stres positif (eustress) dan stres negatif (distress). Seseorang mengalami stres positif ketika lagu yang dirasakan membuat dirinya tertantang. Namun, jika seseorang tersebut menjelma stres negatif ketika ada yang menghina, akan timbul perasaan tak nyaman. Dampakya jadi kurang percaya diri, depresi, perilaku diet tidak sehat, gangguan makanan, dan kecanduan operasi plastik.

”Sebagian besar jika tekanan dari dunia sekitar dianggap positif, mereka akan sadar bahwa ada perubahan di bentuk tubuhnya. Kalau dianggap negatif, mereka cenderung bereaksi melawan atau melarikan diri, ” ujarnya.

Perempuan 46 tahun tersebut menambahkan, dari penelitian yang dilakukan kepada 400-an remaja perempuan dalam Surabaya, banyak yang mengalami ketidakpuasan pada bentuk tubuh secara menyeluruh maupun bagian-bagian tertentu. Khususnya pantat, perut, dan lengan. Nah, beberapa besar melakukan perilaku mengendalikan mengandung badan dengan cara yang tidak sehat.

Istri Jelas Darmasta itu mengatakan, dari 479 remaja perempuan tersebut, mayoritas dipengaruhi tekanan anggota keluarga. Yakni, persepsi ibu dan ayah. Ibu adalah sosok yang paling banyak menyerahkan perhatian terhadap standar tubuh teoretis dan penampilan. Sementara itu, dunia pertemanan paling banyak berasal lantaran teman dekat atau sahabat hawa. Kemudian, media sosial juga menjemput peran besar dalam memengaruhi seseorang. ”Paling banyak dari posting-an Instagram 82 persen dan YouTube 32 persen, ” ujar perempuan yang kini tengah mengambil gelar ahli psikologi di Universitas Airlangga (Unair) itu.

Monique mengungkapkan, banyak hal yang menjadi sumber tekanan sosiokultural. Bentuknya beragam. Ada yang bentuknya dorongan untuk mengundang menurunkan berat badan atau diet, melarang makan atau ngemil zaman malam, menjaga porsi makan, & lain-lain untuuk mendapatkan bentuk tubuh ideal.

Bahkan, wujud ejekan yang diberikan kepada pribadi sangat berpengaruh. Misalnya, sering dipadankan dengan anggota keluarga yang memiliki tubuh lebih bagus dan konseptual. Selain itu, memberikan panggilan khusus untuk melabeli seseorang dari bentuk tubuhnya. Misalnya, Ndut.

Ibu dua anak itu menuturkan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan remaja perempuan untuk berangkat mengembangkan citra tubuh yang membangun dan mencintai diri sendiri. Prima, perlu memperhatikan kebutuhan dan kesehatan tubuh. Kedua, menerapkan body protective manner dengan memilah informasi dengan masuk dan mampu membedakan kritik positif atau negatif.

Saksikan video menarik berikut ini:

Perkara UU Perlindungan PMI, BP2MI serta Kemenaker Harus Sepemahaman

Perkara UU Perlindungan PMI, BP2MI serta Kemenaker Harus Sepemahaman

JawaPos. com – Himpunan Pengusaha Jasa Penempatan Gaya Kerja Indonesia (HIMSATAKI) meyoroti pengamalan teknis operasional sistem pelindungan dan penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Karena itu, organisasi yang diketuai oleh Tegap Hardjadmo itu meminta Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Ramdhani melakukan sinkronisasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker).

Sebelumnya, dua uni yakni Asosiasi Perusahaan Jasa Gaya Kerja Indonesia (APJATI) dan Gabungan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Nusantara (ASPATAKI) mendukung kebijakan Benny Ramdhani, untuk melaksanakan amanat UU 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan PMI, khususnya tentang pembiayaan.

Dalam UU itu Pada Bab 30 ayat 1 disebutkan, Pekerja Migran Indonesia tidak dapat dibebani biaya penempatan. Sementara ayat dua disebutkan, ketentuan lebih lanjut menimpa biaya penempatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Sistem Kepala Badan.

Kuat menjelaskan, sikap dari HIMSATAKI bukan tidak mendukung atas kebijakan Besar BP2MI tersebut, akan tetapi dia menilai, sebagaimana tertera dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Nusantara, frasa Pasal 30 adalah lulus jelas.

“Hal itu bermakna bahwa pembentuk undang-undang memandang rumusan norma dalam batang tubuh tidak perlu diperjelas lagi sebab dianggap sudah jelas, ” sirih Tegap dalam keterangan tertulisnya di JawaPos. com, Selasa (9/6).

Menurut Tegap, tidak ada salahnya BP2MI melihat dan mencari referensi tentang dokumen-dokumen pembahasan, naskah akademik, atau sistematika undang-undang mengenai pasal tersebut agar tidak terjadi salah penafsiran atas pasal tersebut.

Karena dalam penafsirannya, UU tersebut secara logika berada dan saling berhubungan antara mulia dengan lainnya, yakni mewujudkan satuan yang melahirkan pendelegasian kewenangan buat mengatur lebih lanjut sesuatu peristiwa dengan Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Menteri dan Peraturan Awak yang tujuannya adalah melindungi PMI atau calon PMI dan keluargaya sebagai subjek, dan bukan wujud.

“Karena itu tak ada salahnya BP2MI melakukan sinkronisasi dan harmonisasi dengan kementerian terpaut dalam pelaksanaan dari UU tersebut, ” tuturnya.

Bertambah lanjut, Tegap berharap, kebijakan dengan dikeluarkan dalam penyelengaraan dan pengamalan UU tersebut berjalan cepat, berintegritas, netral, transparan dan akuntabel.

“Karena pada prinsipnya HIMSATAKI mendukung, namun perlu disertai evaluasi dan audit terhadap proses penempatan dan perlindungan yang berjalan masa ini, ” ujarnya.

Menuturnya, mempertimbangkan bahwa masing-masing negara penempatan memiliki kebijakan yang berbeda terkait pembebanan biaya rekrutmen bagi pemberi kerja serta persaingan dengan negara pengirim lainnya.

“Seperti jenis jabatan pekerjaan untuk calon PMI yang berbeda tata biayanya, berbeda antara bekerja pada perseorangan dan badan hukum, bertentangan antara low skill, semi-skilled & skilled, ” urainya.

Ia juga mendeesak ada transparansi dalam menyusun biaya penempatan sehingga pembebanan biaya kepada siapapun dianggap adil.

Jokowi Pakai Kaus Kaki Putih pada Masjid, Bukan Bersepatu

Jokowi Pakai Kaus Kaki Putih pada Masjid, Bukan Bersepatu

MEDIA   sosial dibanding berbagai platform dihebohkan foto Kepala Joko Widodo (Jokowi) yang beruang di dalam sebuah masjid. Menjepret itu disertai keterangan yang menyebutkan bahwa Jokowi masuk ke masjid dengan mengenakan sepatu. Jawa Gardu menemukan informasi tersebut di perserikatan WhatsApp dan diunggah akun Twitter @anaktermuda.

”Selamat suangi. Selamat beristirahat pak @jokowi Oiya min, tolong ingatkan pak @jokowi lain kali kalo masuk masjid jgn pake sepatu ya, suruh buka sepatunya Makasih min, ” tulis keterangan yang diunggah di 5 Juni 2020 (bit. ly/MasukPakaiSepatu).

Dalam foto, tampak Jokowi berdiri bersama Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno di dalam sebuah masjid yang menerapkan physical distancing. Tempat untuk jamaah telah diberi sajadah dengan jarak per lebih dari 1 meter.

Presiden dan Mensesneg terang mengamati kondisi ruangan masjid itu. Pratikno memakai kaus kaki beragam gelap. Sedangkan Jokowi mengenakan penutup kaki berwarna putih.

Tentu saja kabar yang menyuarakan Jokowi memakai sepatu di dalam masjid itu bikin penasaran. Makin, presiden memang sering mengenakan sneakers di berbagai aktivitas.

Tapi, jika melihat foto tersebut dengan cermat, bisa dipastikan Jokowi hanya mengenakan kaus kaki suci. Foto yang lebih jelas diunggah akun Twitter resmi Presiden Joko Widodo pada 4 Juni 2020.

Dalam keterangannya, disebutkan saat itu Jokowi sedang meninjau Masjid Baiturrahim di kompleks istana sebagai persiapan menuju tatanan normal baru (new normal). ”Ruangan langgar sudah ditata, juga sudah dibersihkan dengan disinfektan. Bila salat Jumat sudah dimulai lagi di masjid-masjid, maka Masjid Baiturrahim juga telah siap, ” bunyi keterangannya.

Kanal YouTube milik Metrotvnews juga menunjukkan detik-detik saat Jokowi datang ke Masjid Baiturrahim pada kawasan istana kepresidenan. Pada denyut ke-45, tampak Jokowi yang bersepatu sneakers hitam kombinasi putih berlaku menuju masjid. Beberapa saat lalu dia melepas sepatunya dan mendatangi teras masjid sambil tetap mengenakan kaus kaki putih. Anda mampu melihatnya di bit. ly/SneakersHitamPutih.

Situs presidenri. go. id juga mengabarkan kunjungan ke Langgar Baiturrahim itu pada Kamis (4/6). Kunjungan tersebut dilakukan untuk mempelajari persiapan penerapan new normal pada sarana ibadah.

—

FAKTA

Foto yang diunggah akun Twitter @anaktermuda memperlihatkan Pemimpin Joko Widodo sedang mengecek anju new normal di Masjid Baiturrahim, kawasan Istana Kepresidenan. Presiden menggunakan kaus kaki putih, bukan sepatu.

Saksikan video menarik berikut ini:

Produksi di Jember Melimpah, Sayur-mayur Oleh karena itu Sampah

Produksi di Jember Melimpah, Sayur-mayur Oleh karena itu Sampah

JawaPos. com – Jumlah buatan yang begitu tinggi membuat kadar sayur-mayur di sejumlah wilayah Jatim kini begitu merana. Salah kepala yang terparah terjadi di Jember. Kini sebagian besar komoditas itu terbuang percuma.

Pemicunya, tingginya kapasitas produksi tak diimbangi dengan konsumsi. Pada saat konsumen lokal tak bisa menyerap, sayur-mayur di kabupaten ini tak mampu dikirim ke luar karena tertutupnya mayoritas jalur distribusi akibat pandemi Covid-19.

Akibatnya, saat ini tempat pembuangan sampah menjadi lahan baru sayur-mayur itu. Misalnya, dalam TPA Pakusari. Kini TPA tersebut dihiasi dengan sampah organik, khususnya sayur-mayur.

Bahkan, dibanding pantauan Jawa Pos Radar Jember, banyak peternak yang datang ke TPA Pakusari untuk mencari pakan. Ya, di gunungan sampah tersebut terdapat banyak sampah sayur-sayuran. Bahkan, ada sampah sayur terong dalam satu sak penuh. Salah satunya adalah Feri Irawan. Bersama orang tuanya, dia mencari pakan peliharaan di TPA Pakusari. ”Ini buat pakan sapi, ” terangnya.

Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro membuktikan, pada pandemi korona seperti itu, petani hortikultura merana. Sebab, kehormatan tanaman sayur dan buah hancur-hancuran. ”Down semua lihat harga begitu, ” paparnya.

Pokok, tanaman hortikultura produksi Jember dengan biasanya disalurkan ke berbagai wilayah mulai tersendat. Dengan demikian, penerapan sayuran di Jember itu melimpah. Ditambah, serapan atau konsumsi kelompok tidak bisa menyerap semua buatan sayur. Kondisi itulah yang melaksanakan hasil pertanian sayuran menghiasi TPA Pakusari.

Setiap Senin, Gugus Tugas Akan Beberkan Peta Persebaran Covid-19

Setiap Senin, Gugus Tugas Akan Beberkan Peta Persebaran Covid-19

JawaPos. com – Juru Bicara Pemerintah tuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan Gugus Tugas telah melakukan rapat dengan jajarannya dalam penanganan pathogen Korona di tanah Air.

Yurianto mengatakan dari rapat tersebut diputuskan bahwa setiap Senin, Gugus Tugas akan melaporkan kajian status daerah di seluruh wilayah di tanah air terkait persebaran virus Korona.

“Bahwa setiap hari Senin, Gugus Tugas Pusat akan melaporkan kajian terhadap status daerah di seluruh wilayah tanah air berbasis pada yg dilakukan kabupaten kota, ” ujar Yurianto di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (6/6).

Menurut Yurianto, nantinya peta sebaran trojan Korona akan diketahui dari setiap daerah tersebut saat diumumkan ke publik. Sehingga bisa diambil tindakan dan ditangani oleh Gugus Tugas.

“Dari data inilah nanti kita bisa mengetahui berapa daerah yang masih belum terdampak Covid-19. Kemudian berapa daerah yg kemudian berisiko ringan, berisiko sedang, dan berisiko tinggi dari Covid-19, ” katanya.

“Ini penting untuk kita. Karena muslihat salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan bersama-sama adalah bagaimana yg berisiko ‎ini bisa kita turunkan menjadi sedang. Bagaimana yang sedang bisa kita turunkan menjadi ringan, ” tambahnya.

Sesudah diketahui persebaran virus Korona pada setiap daerah tersebut. Maka jadi dilakukan kajian mana-mana saja sektor di suatu daerah yang boleh dibuka saat pandemi ini.

“Karena inilah yang akan menjadi panduan di dalam kaitan dalam kita mengatur segi-segi / bidang-bidang produktif yang harus segera kita lakukan, ” ungkapnya.

Saksikan video menarik berikut ini: