Pembicaraan Harian Melejit 16 Persen dalam Pekan Resesi, Ini Alasannya

Pembicaraan Harian Melejit 16 Persen dalam Pekan Resesi, Ini Alasannya

Pembicaraan Harian Melejit 16 Persen dalam Pekan Resesi, Ini Alasannya

JawaPos. com –Indonesia resmi masuk ke jurang resesi karena mengalami pertumbuhan minus dua kuartal berturut-turut. Namun, pelaku rekan dalam hal ini para investor, sepertinya mengacuhkan isu resesi. Kejadian itu tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan ukuran tukar rupiah yang menguat.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pergerakan data perdagangan pekan lalu didominasi pada zona meyakinkan. Peningkatan tertinggi selama sepekan itu terjadi pada rata-rata nilai pembicaraan harian bursa sebesar 16, 16 persen menjadi Rp 9, 105 triliun dari Rp 7, 838 triliun pada penutupan pekan morat-marit.

Kemudian, peningkatan serupa terjadi pada rata-rata frekuensi harian selama sepekan sebesar 9, 33 persen menjadi 768, 340 seperseribu kali transaksi dibandingkan 702, 764 ribu kali transaksi pada pasar sebelumnya. Sedangkan rata-rata volume pembicaraan meningkat tipis 0, 39 upah menjadi 12, 455 miliar saham dari 12, 406 miliar bagian pada minggu lalu.

Kapitalisasi pasar bursa turut membuktikan kenaikan sebesar 4, 05 persen menjadi Rp 6. 199, 566 triliun dari Rp 5. 958, 186 triliun seminggu sebelumnya. Tidak hanya itu, IHSG juga menemui peningkatan 4, 04 persen mencapai level 5. 335, 529 sebab posisi 5. 128, 225 di penutupan pekan lalu.

Sementara itu, mengutip kurs pusat Bank Indonesia (BI) posisi rupiah saat ini makin menguat berharta di level 14. 321 terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat Indef Bhima Yudhistira mengatakan, para pelaku pasar lebih menyoroti perkembangan perpolitikan negara Paman Sam dibandingkan data ekonomi Indonesia. Keunggulan calon presiden Biden menyampaikan angin segar bagi pasar saham dan keuangan.

”Ini faktornya karena Biden effect . Ada euforia dengan tinggi ketika Biden unggul pada pemilu AS. Jadi investor gak ibarat resesi ekonomi di Indonesia jadi hal penting, ” ujar Bhima Yudhistira kepada JawaPos. com , Sabtu (7/11).

Bhima menjelaskan, Biden dianggap akan menguntungkan ekonomi Indonesia dengan stabilitas perdagangan internasional yakni memadamkan tensi perang dagang. Kemudian provokasi yang dijanjikan Biden pun pas jumbo sehingga mendorong percepatan perbaikan ekonomi global.

Menurut dia,   masuknya dana asing sebab ada Biden effect masih rentan bertukar dan keluar lagi. ” Biden effect masalahnya akan bertahan berapa lama? Jika hanya temporer bisa kembali berlaku koreksi karena investor ujungnya tahu fundamental ekonomi Indonesia masih jelek, ” tutur Bhima Yudhistira.

Saksikan video mengakui berikut ini: