Aymee Sidarta dan Serunya Jadi Kreator Busana Anjing

Aymee Sidarta dan Serunya Jadi Kreator Busana Anjing

Aymee Sidarta dan Serunya Jadi Kreator Busana Anjing

Tersedia Shiro, Petto, dan Usagi. Di hadapan tiga Pekingese menggemaskan itu, duduklah Aymee Sidarta sambil senyum-senyum.

—

Dia adalah desainer baju tiga anjing yang diasuh Johan Wijaya dan Steffi Karsono itu. Sabtu siang (17/10) mereka janjian fitting baju.

’’Gampang-gampang susah, ’’ ungkap Aymee tentang profesinya sebagai desainer baju anjing. Ada saja kejadian yang memproduksi dia tak pernah bisa menelantarkan momen saat mendandani anjing. Khususnya tiga anak asuh Johan serta Steffi itu.

Petto pernah membuat Aymee repot pada Maret 2018. Ketika itu, anjing berbulu putih tersebut ikut busana show. Sang pawrent, Steffi, nyata tak mau setengah-setengah. Maka, didapuklah Aymee sebagai desainer. Gaun pink dengan ornamen bulu-bulu dipilih Steffi sebagai kostum Petto. Ada ritme ekor panjang pada kostum itu. Tentu saja, sarat hiasan bulu pula.

’’Ini agak-agak yang paling ribet. Kalau motong kain bulu itu, bulunya lelap ke mana-mana. Sampai-sampai serumah menyilih semua, ’’ kenang Aymee masa dijumpai di kawasan CitraLand kemarin.

Meskipun ribet, alumnus Arsitektur UK Petra itu tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan gaun Petto. ’’Ngerjainnya bener-bener mepet. Kayaknya, semalam udah jadi ekornya itu, ’’ ujar Aymee. Sesudah urusan ekor dan bulu-bulu beres, sisa proses pembuatan gaun kendati gampang saja.

Esoknya, gaun itu dipakai Petto buat berlenggak-lenggok di catwalk. Nah, Aymee beralih profesi dari desainer menjelma fotografer. Itu merupakan bentuk pertolongan Aymee untuk Steffi dan Johan, pawrent Petto yang sekaligus teman baiknya.

Selama menekuni profesi sebagai pet fashion designer, pengalaman apa yang paling emosional buat Aymee? ’’Waktu itu tahu ada baju pesanan yang udah jadi, tapi ada bagian yang kotor kena tanda jahitan, ’’ ungkapnya. Demi kesempurnaan, dia kendati berinisiatif mencuci bagian yang kotor itu.

Tapi, sesudah dicuci, ternyata noda penanda jahitan itu malah melebar ke mana-mana. ’’Aku coba kucek. Eh, kainnya makin rusak. Mau nangis agaknya, ’’ kata Aymee. Kini, peristiwa itu bisa dia kenang sambil tertawa-tawa.

Selain perkara kain, perempuan 25 tahun itu juga sering dibikin pusing karena klien. Ya, anjing-anjing lucu dengan jadi pelanggannya. ’’Kalau dibuat patokan S, M, L itu nggak bakal bisa. Soalnya, proporsi di setiap jenis juga berbeda. Ada yang kakinya pendek, kurus, atau lehernya kecil. Ketebalan bulu juga warga, ’’ jelasnya.

Karena itu, Aymee selalu melebihi ukuran pada bagian-bagian tertentu. Itu untuk mempermudah pemakaian baju dan menghindari kesempitan. Sebab, sering kali zaman tiba waktunya fitting, ukuran tubuh para klien sudah berubah. ’’Kayak baju udah jadi, tapi ternyata anjingnya gemukan. Akhirnya mesti benerin lagi, ’’ ceritanya.

Aymee yang kini berkecimpung pada dunia fashion anjing mengaku melancarkan secara otodidak. Dulu, dia memang pernah ikut kursus fashion semasa sebulan. Tapi, itu fashion buat manusia. Bukan anjing.

Aymee menjadi percaya diri setelah sukses membuatkan pakaian untuk anjing salah seorang teman. ’’Terus, iseng saya upload di Instagram. Ternyata banyak yang suka, ’’ ucap owner Petiquet tersebut.

Dari otodidak dan iseng, tempat kini menekuni aktivitas yang jauh berbeda dengan bidang ilmunya di dunia arsitektur. Dan, banyak baju rancangannya yang memenangi fashion show atau kompetisi kostum.

Ikuti Tren Baju Pribadi

Agar  berbeda, Aymee mengaku tetap menggunakan ilmu arsiteknya buat merancang pakaian anjing. Dunia konstruksi menuntut dia selalu berpikir buat menciptakan desain yang tidak sepadan dengan yang sudah ada. Saat ini, prinsip itu juga dia terapkan untuk bisnis yang ditekuninya.

Perempuan yang berulang tahun tiap 22 Desember itu mengaku terinspirasi baju-baju manusia. ’’Gimana caranya aku bisa jadiin desain baju manusia itu menjadi pakaian juga untuk anjing, ’’ terang Aymee. Itu memaksanya untuk terus berkreasi dan mengikuti tren.

Misalnya, baju rumahan yang kini sedang tren. Aymee lantas menggagas baju kembaran antara pawrent & anjing yang diasuhnya. Dia menamai desain itu Twinsie Loungewear. ’’Fungsinya sama kayak semacam piyama-piyama yang sekarang booming. Dipakai di panti aja oke, dipakai keluar bentar juga masih oke, ’’ sambungnya.

Jenis kain yang Aymee pakai pun beragam. Tidak hanya berfokus pada kain katun. Dia mengaku lebih sering memakai kain daces. ’’Kain ini terkesan elegan mewah gitu. Tapi, lazimnya juga dikombinasikan dengan kain katun dan kain-kain yang lain juga, ’’ tuturnya.

Selain baju, Aymee juga mengkreasikan fashion dengan lain. Mulai cape, tudung, dress, collar tie, bow tie, vest, suit, hingga kimono. Aksesori bunga seperti topi dengan berbagai bentuk juga pernah dia ciptakan. Pada antaranya, witch hat, boater adat, baker hat, topi santa, & topi cheongsam dengan ekor bulu. Setelah anjing dan beberapa kali kucing, kini Aymee berpikir buat merancang busana buat kelinci.