Anak sekolah yang Terlibat Demo Akan Diserahkan ke Sekolah dan Disdik

Anak sekolah yang Terlibat Demo Akan Diserahkan ke Sekolah dan Disdik

Anak sekolah yang Terlibat Demo Akan Diserahkan ke Sekolah dan Disdik

JawaPos. com – Perusuh unjuk rasa menegah omnibus law Undang-undang Cipta Kegiatan didominasi oleh kalangan pelajar. Bersandarkan catatan Polda Metro Jaya, periode perusuh dari kalangan non pelajar hanya sekitar 20 persen. Keadaan ini pun terbilang sangat memprihatinkan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, pihaknya akan menyerahkan siswi yang terlibat aksi anarkis ke pihak sekolah maupun Dinas Pelajaran. Dengan begitu, sekolah bisa turut serta membantu proses edukasi pada siswanya agar tidak berbuat anarkis.

“Kami akan sampaikan ke sekolah-sekolahnya bahkan ke Disdik agar bisa membantu edukasi dalam mereka-mereka ini, ” ucap Yusri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (14/10).

Keputusan ini diambil tal lepas daripada sikap anarkisme yang diperlihatkan para-para pelajar ini. Sebab, ketika kerusuhan terjadi, mereka seolah tak memiliki rasa takut. Para pelajar tersebut bahkan berani melempari petugas, makin merusak fasilitas umum.

Selain itu, polisi juga menodong keterlibatan orang tua harus ditingkatkan. Para orang tua diwajibkan mengawasi segala kegiatan anak-anaknya, supaya tak terhasut melakukan aksi anarkis.

“Hampir setiap kali ditanya orang tuanya rata-rata mengatakan tak tahu anaknya melakukan seperti ini. Kita mengedukasi kepada para karakter tua dan keluarganya agar mari sama-sama kita mengawasi anak-anak kita ini, ” tegas Yusri.

Sebelumnya, jajaran Polda Metro Jaya menangkap 1. 377 orang dalam kerusuhan unjuk rasa menentang omnibus law Undang-undang Cipta Kerja. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen atau hampir 900 karakter adalah pelajar.

“Bahkan ada 5 anak SD yang umurnya sekitar 10 tahun. Sebanding mereka menyampaikan saya diundang dan diajak untuk melakukan kerusuhan, ” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (14/10).

Tengah itu, sisanya merupakan kelompok mahasiswa dan pengangguran. Kondisi ini tentu kudu menjadi perhatian penuh semua pihak. Sebab, para pelajar ini seharusnya memikirkan pendidikan bukan berbuat anarkis.