Oknum Pelecehan dan Penipuan Rapid Test Ternyata Sarjana Kedokteran

Oknum Pelecehan dan Penipuan Rapid Test Ternyata Sarjana Kedokteran

Oknum Pelecehan dan Penipuan Rapid Test Ternyata Sarjana Kedokteran

JawaPos. com – Polres Bandara Soekarno-Hatta masih memeriksa status oknum diduga dokter rapid test berinisial EFY. Sebab, berdasarkan keterangan PT Kimia Farma (Persero) selaku penanggung jawab rapid test di Bandara Soekarno-Hatta menyebut bahwa EFY bukanlah seorang dokter.

“Dari keterangan Kimia Farma bahwa yang bersangkutan adalah lulusan dari salah satu Universitas di Sumut. Dan juga gelar akademis dari tersangka adalah sarjana kedokteran, ” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (25/9).

Yusri mengatakan, informasi dari Kimia Farma juga menyebut, meski EFY merupakan sarjana kedokteran namun dengan bersangkutan dipastikan bukanlah dokter, melainkan hanya tenaga medis. Sebab, dia belum mengambil sertifikasi kedokteran supaya bisa berprofesi sebagai dokter.

“Belum mengambil sertifikasi jadi dokter. Dia adalah lulusan segar memang sarjana kedokteran, ” jelasnya.

Guna menguatkan masukan status EFY bukan dokter nyata, penyidik berencana meminta keterangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Penyidik serupa telah merencanakan pemeriksaan kepada bagian universitas swasta tempat EFY menempuh pendidikan kedokteran.
Sebelumnya, viral sebuah kabar di media sosial bahwa telah terjadi pelecehan erotis di Bandara Soekarno-Hatta. Kisah tersebut dibagikan oleh perempuan berinisial LHI, 23, selaku pemilik akun twitter @listongs.

LHI membicarakan pelecehan itu terjadi saat tempat melaksanakan rapid test yang disediakan oleh Bandara Soekarno-Hatta sebagai sarana perjalanan menuju Nias, Sumatera Mengetengahkan, pada Minggu (13/9). Hasil rapid test itu dinyatakan positif sebab sang dokter.

LHI kemudian memutuskan membatalkan perjalanan ke Nias karena takut menularkan virus. Ditambah, dia merasa perjalanannya ke Nias tidak begitu mendesak.

Namun, oknum dokter tersebut menawarkan bantuan memanipulasi data rapid test. Oknum tersebut kemudian meminta uang Rp 1, 4 juta kepada korban. Bahkan dia tahu mencium dan meraba payudara objek.