Instruksi WHO, Tes Semua Orang Sekalipun Tak Tunjukkan Gejala Covid-19

Instruksi WHO, Tes Semua Orang Sekalipun Tak Tunjukkan Gejala Covid-19

Instruksi WHO, Tes Semua Orang Sekalipun Tak Tunjukkan Gejala Covid-19

JawaPos. com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta negara-negara harus secara rajin menguji semua orang untuk menjumpai kasus virus Korona dan menutup agar tak menjadi sumber penularan. Bahkan sekalipun jika mereka tidak menunjukkan gejala.

Pada konferensi pers, Kepala Teknis WHO untuk Covid-19 Maria Van Kerkhove mengatakan pengujian perlu digenjot. Makin saat ini semakin banyak karakter bergejala ringan atau tanpa petunjuk.

“Pengujian mungkin menetapkan diperluas untuk mencari individu dengan gejalanya lebih ringan atau yang mungkin tidak menunjukkan gejala, ” tegasnya seperti dilansir dari Fox59 , Minggu (30/8).

Instruksi WHO itu bertentangan dengan pedoman baru dibanding Pusat Pengendalian dan Pencegahan Aib AS (CDC). CDC menilai karakter yang telah melakukan kontak depan dengan pasien Covid-19 tetapi tak merasa sakit maka tidak menetapkan untuk dites. Untuk itu, Van Kerkhove mengatakan negara-negara bebas untuk menyesuaikan panduan pengujian WHO untuk kebutuhan masing-masing. Meski begitu, tempat menegaskan bahwa pengujian masif istimewa untik dilakukan.

“Yang paling penting adalah pengujian, untuk menentukan kasus aktif sehingga mampu diisolasi dan pelacakan kontak juga dapat dilakukan, ” katanya.

“Ini sangat mendasar buat memutuskan rantai transmisi, ” tegasnya.

Van Kerkhove juga mengungkapkan keprihatinannya tentang perilaku umum yang semakin cuek. Dia merasakan prihatin dengan orang yang berpikir tidak perlu menjaga jarak aman dari orang lain.

“Kami melihat bahwa orang-orang tak benar-benar mengikuti jarak fisik lagi. Meskipun Anda mengenakan masker, Anda masih perlu mencoba melakukan jangka fisik setidaknya satu meter serta bahkan lebih jauh jika Anda bisa, ” tegasnya.

Kepala WHO untuk Eropa, Dr. Hans Kluge, menganalogikan bahwa virus Korona adalah ‘tornado dengan buntut panjang’ yang begitu lama membentangkan waktunya. Dia mengatakan meningkatnya infeksi di kalangan anak muda dapat menyebar ke orang tua yang lebih rentan dan menyebabkan peningkatan kematian.

“Bahwa pada satu titik akan ada bertambah banyak rawat inap dan penambahan angka kematian, ” katanya.

“Mungkin orang yang bertambah muda memang belum tentu bakal mati karenanya, tapi ini adalah tornado dengan ekor yang lama dan itu adalah penyakit multi organ, ” katanya.

Kluge mengatakan 32 dari 55 negara bagian dan teritori di wilayah Eropa WHO telah merekam peningkatan tingkat infeksi baru semasa 14 hari lebih dari 10 persen. WHO juga merekomendasikan supaya anak-anak berusia 6 hingga 11 tahun memakai masker pada waktu-waktu tertentu untuk mencegah penyebaran virus. Terutama di daerah-daerah dengan penyebaran komunitas yang luas atau pada mana jarak sosial tidak bisa dipertahankan.

Saksikan video menarik berikut ini: