Tidak Percaya Tertular, Keluarga Buka Paksa Peti Jenazah Pasien Covid-19

Tidak Percaya Tertular, Keluarga Buka Paksa Peti Jenazah Pasien Covid-19

Tidak Percaya Tertular, Keluarga Buka Paksa Peti Jenazah Pasien Covid-19

JawaPos. com –Pihak keluarga pasien Covid-19 pada Senin (24/8) malam, membuka paksa kotak jenazah dan melakukan pemakaman tunggal. Mereka mengaku melakukan itu sebab belum mendapatkan bukti jenazah terkena Covid-19.

”Penyebab terjadi penolakan oleh keluarga di Kelurahan Taeh Baruah tersebut karena pihak keluarga tidak percaya bahwa penderita betul-betul terjangkit Covid-19, ” kata pendahuluan Kapolres Payakumbuh AKBP Dony Setiawan seperti dilansir dari Antara di Payakumbuh.

Menurut dia, pihak keluarga hanya mendapatkan pemberitahuan melalaikan lisan tanpa ada keterangan terekam dari otoritas berwenang. Selain itu, pihak keluarga juga tidak mempercayai penjelasan dari gugus tugas bahwa pasien berinisial YS sudah dimandikan sesuai protokol. Sehingga, keluarganya berinisiatif memandikan dan memakamkan tanpa adat Covid-19.

”Padahal pemulasaran, mulai dimandikan, dikafani, dan disalatkan sudah diikuti atau dilihat bagian keluarga, ” ujar Dony.

Menurut dia, warga di dalam awalnya sudah sepakat akan memasukkan anjuran dari gugus tugas. Cuma saja, karena mereka tidak mempercayai keterangan petugas, sehingga terjadi situasi tersebut. ”Tapi, setelah melihat bukti surat dari Laboratorium Universitas Andalas Padang, mereka baru ketakutan & menyadari kesalahan. Saat ini sudah ada yang dites usap, ” ujar Dony.

Era ini, lanjut dia, pihak tim sudah diamankan sebanyak enam orang yang terdiri atas adik peranakan, anak, dan adik ipar. ”Setiap anggota keluarga ini perannya bertentangan. Ada yang memandikan, mengangkat peti, dan memakamkan, ” terang Dony.

Dia menyebutkan, peristiwa itu merupakan yang pertama. Padahal sudah tujuh kasus yang melaksanakan pemulasaran jenazah di Payakumbuh dan belum ada penolakan. ”Karena benar dari rumah sakit langsung ke pemakaman. Kalau yang sekarang diantar ke rumah, jadi ada jalan oleh pihak keluarga, ” perkataan Dony.

Dia memasukkan, menimbang kondisi yang ada zaman ini, pihaknya tidak akan melanjutkan proses pidana. Tapi, pihak suku telah menandatangani surat perjanjian buat tidak melakukan hal seperti tersebut lagi. Pihaknya juga tidak menemukan adanya unsur memprovokasi karena satu kompleks tempat tinggal itu cuma diisi keluarga semua. ”Sebenarnya ada pidana. Aparat penegak hukum bisa menggunakan pasal 178 KUHP, ” kata Dony.

Saksikan video menarik berikut itu: