Untuk Empati

Untuk Empati

Pandemi Covid-19 –kalau Anda belum bosan mengikuti percakapan tentang ini– mengandung sebuah paradoks. Di satu sisi, ia membuat kita, untuk berjaga-jaga, memisahkan diri dari orang lain.

—

INI perpisahan dengan jaga jarak 2 meter maupun dengan karantina diri beberapa hari.

Di pihak lain, pandemi ini menimbulkan keadaan senasib: memakai masker adalah tindakan melindungi diri. Dan pada saat yang sama, melindungi orang lain –mencegah orang lain terpapar– berarti kita mencegah diri sendiri tertular. Batas jadi tak jelas antara sikap ”mementingkan diri sendiri” dan ”memikirkan nasib orang lain”

Pengalaman dengan pandemi ini memang bisa membingungkan; karena itu saya tak mau merasa paling tahu serta menyalah-nyalahkan orang lain. Apalagi, siapa pun tak punya pengalaman dengan Covid-19: pakar epidemiologi maupun pejabat, pemimpin agama maupun pekerja kesehatan, kali ini menghadapi sesuatu yang baru, bukan hanya untuk abad ke-21.

Tiap kebijakan dan tiap teori selalu dimulai dengan sifat mencoba-coba. Kesalahan umum terjadi dan itu tak bisa dielakkan –meskipun tak bisa diulangi.

Kalau saya ditanya bagaimana menghadapi semua itu, saya cenderung menjawab: Saya ingin kembali kepada empati, kepada ”tepo sliro”, dan melihat ini semua sebagai proses. Telah begitu banyak analisis, informasi yang berubah cepat, yang membingungkan –dan menghendaki kesabaran. Mungkin juga kerendahan hati.

Ini semacam petuah kuno, tapi yang kuno tak berarti tak sah. Sebab, melihat beratnya keadaan, empati adalah hal yang wajar –kepada semua yang terpapar, para petugas yang bekerja untuk yang dirawat dan dites, pejabat pusat dan daerah yang berusaha mengatasi keadaan ini. Mereka tentu pernah melakukan kesalahan dalam suasana yang baru ini. Dan di sinilah kita perlu melihat keadaan sebagai proses: kesalahan bisa jadi ”insight” baru.

Juga bahwa keadaan bisa berubah. Tentu saja perubahan perlu disertai aksi perbaikan. Saya sangat mengagumi mereka yang menghimpun pertolongan buat yang tersingkir dari nafkah dan kerja. Saya sangat mengagumi mereka yang masuk ke pelosok desa dan kota misalnya untuk membangun tempat cuci tangan, menjelaskan protokol kesehatan kepada mereka yang terbelakang mendapat informasi.

Mereka adalah kekuatan empati. Memperlakukan sesama sebagai sesama. Mereka bukan penyinyir, yang merasa lebih ulung ketimbang orang lain, termasuk orang lain yang bekerja dengan keringat, kecemasan, kekhilafan, tapi penuh komitmen. (*)