Month: August 2020

4 Alasan Pemerintah Naikkan Cukai Rokok Tahun Depan

4 Alasan Pemerintah Naikkan Cukai Rokok Tahun Depan

JawaPos.com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam hal ini Direktorat Jenderal Bea Cukai berencana akan kembali menaikkan tarif cukai rokok pada 2021 mendatang. Kenaikan tersebut akan diumumkan September mendatang.

Kepala Sub Direktorat Tarif Cukai & Harga Dasar Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC), Sunaryo menyatakan, langkah kebijakan tersebut telah dipertimbangkan sesuai dengan asumsi makro tahun 2021 hingga dampak pandemi Covid-19.

“Sudah memperhitungkan kenaikan harga cukai rokok ini pada APBN 2021 dan juga memperhitungkan kondisi saat ini,” ujarnya dalam diskusi virtual, Minggu (30/8).

Sunaryo menjelaskan, dalam pertimbangannya berdasarkan empat aspek. Pertama, berdasarkan hasil survei dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja reksan cukai. Menurutnya, secara umum masih memiliki resilience untuk melindungi tenaga kerja atau padat karya.

Kedua, lanjutnya, berkaitan dengan hasil indepth interview. Sebab, secara umum kontributor utama mengalami penurunan baik secara volume maupun nominal cukai.

Ketiga, kata dia, berdasarkan monitoring HTP, pabrikan belum sepenuhnya melakukan fully shifted atau forward shifting. “Kondisi saat ini pabrikan masih menalangi atau backward shifting,” ucapnya.

Aspek terakhir, yaitu titik optimum yang menjadi penentuan target 2021 yang berkorelasi positif terhadap sektor penerimaan.

Instruksi WHO, Tes Semua Orang Sekalipun Tak Tunjukkan Gejala Covid-19

Instruksi WHO, Tes Semua Orang Sekalipun Tak Tunjukkan Gejala Covid-19

JawaPos. com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta negara-negara harus secara rajin menguji semua orang untuk menjumpai kasus virus Korona dan menutup agar tak menjadi sumber penularan. Bahkan sekalipun jika mereka tidak menunjukkan gejala.

Pada konferensi pers, Kepala Teknis WHO untuk Covid-19 Maria Van Kerkhove mengatakan pengujian perlu digenjot. Makin saat ini semakin banyak karakter bergejala ringan atau tanpa petunjuk.

“Pengujian mungkin menetapkan diperluas untuk mencari individu dengan gejalanya lebih ringan atau yang mungkin tidak menunjukkan gejala, ” tegasnya seperti dilansir dari Fox59 , Minggu (30/8).

Instruksi WHO itu bertentangan dengan pedoman baru dibanding Pusat Pengendalian dan Pencegahan Aib AS (CDC). CDC menilai karakter yang telah melakukan kontak depan dengan pasien Covid-19 tetapi tak merasa sakit maka tidak menetapkan untuk dites. Untuk itu, Van Kerkhove mengatakan negara-negara bebas untuk menyesuaikan panduan pengujian WHO untuk kebutuhan masing-masing. Meski begitu, tempat menegaskan bahwa pengujian masif istimewa untik dilakukan.

“Yang paling penting adalah pengujian, untuk menentukan kasus aktif sehingga mampu diisolasi dan pelacakan kontak juga dapat dilakukan, ” katanya.

“Ini sangat mendasar buat memutuskan rantai transmisi, ” tegasnya.

Van Kerkhove juga mengungkapkan keprihatinannya tentang perilaku umum yang semakin cuek. Dia merasakan prihatin dengan orang yang berpikir tidak perlu menjaga jarak aman dari orang lain.

“Kami melihat bahwa orang-orang tak benar-benar mengikuti jarak fisik lagi. Meskipun Anda mengenakan masker, Anda masih perlu mencoba melakukan jangka fisik setidaknya satu meter serta bahkan lebih jauh jika Anda bisa, ” tegasnya.

Kepala WHO untuk Eropa, Dr. Hans Kluge, menganalogikan bahwa virus Korona adalah ‘tornado dengan buntut panjang’ yang begitu lama membentangkan waktunya. Dia mengatakan meningkatnya infeksi di kalangan anak muda dapat menyebar ke orang tua yang lebih rentan dan menyebabkan peningkatan kematian.

“Bahwa pada satu titik akan ada bertambah banyak rawat inap dan penambahan angka kematian, ” katanya.

“Mungkin orang yang bertambah muda memang belum tentu bakal mati karenanya, tapi ini adalah tornado dengan ekor yang lama dan itu adalah penyakit multi organ, ” katanya.

Kluge mengatakan 32 dari 55 negara bagian dan teritori di wilayah Eropa WHO telah merekam peningkatan tingkat infeksi baru semasa 14 hari lebih dari 10 persen. WHO juga merekomendasikan supaya anak-anak berusia 6 hingga 11 tahun memakai masker pada waktu-waktu tertentu untuk mencegah penyebaran virus. Terutama di daerah-daerah dengan penyebaran komunitas yang luas atau pada mana jarak sosial tidak bisa dipertahankan.

Saksikan video menarik berikut ini:

Itu Berjuang di Garis Belakang Penanganan Covid-19 di Surabaya (2)

Itu Berjuang di Garis Belakang Penanganan Covid-19 di Surabaya (2)

Kali pertama tahu bahwa TPU Babat Jerawat bakal dijadikan lokasi pemakaman jenazah Covid-19, para aparat pemakaman waswas. Setelah seharian berlaku, langkah kaki menuju ke sendi untuk bertemu keluarga tak teristimewa mudah. Mereka khawatir kepulangannya berujung petaka.

DIMAS NUR APRIYANTO , Surabaya

Kedua  bola mata Hartono terbelalak ketika menyebut kata Maret & April. Kepala UPTD TPU Tebas Jerawat itu tak bisa mencuaikan bagaimana hari-harinya disibukkan dengan mengawasi dan mengontrol proses pemakaman segenap jenazah Covid-19 agar berlangsung tenang.

Jemarinya diangkat. ”Aduh, Maret-April itu banyak banget jenazah yang dimakamkan di sini, ” kata Hartono. ”Bisa 8 sampai 12 jenazah per hari, ” imbuhnya sambil menunjukkan angka utama dan dua dengan jemarinya.

Sejak Maret, ketika di luar rumah, masker tidak pernah absen dari hidungnya. Kecuali era mengambil air wudu, makan, serta minum. Di saku celananya selalu tersedia hand sanitizer. Tak terkira berapa kali sabun cuci tangan ditekannya serta keran air dinyalakannya.

Setiap selesai mengatur pemakaman, Hartono selalu bergegas meresap ke bilik disinfektan.

Tubuhnya berputar. ”Supaya saat menyelap ke kantor, semua steril, ” ucapnya. Ayah dua anak tersebut mengaku takut orang-orang di sekitarnya terpapar Covid-19.

Hartono paling tegas dalam menegakkan peraturan jaga jarak. Tak terkecuali pada keluarga jenazah Covid-19. Dia bekerja mendata identitas jenazah hingga keluarga jenazah. Dia selalu meminta rumpun jenazah yang menghampiri ke kantor TPU untuk kepentingan pengisian jati jenazah agar wajib steril.

Tak jarang, adu lagak antara Hartono dan keluarga jenazah terjadi. Biasanya terkait dengan keinginan keluarga menyaksikan pemakaman dari renggang dekat. Hal itu jelas dilarang.

Keluarga boleh sampai di pemakaman. Namun, kata Hartono, tidak boleh terlalu dekat secara para petugas ketika memakamkan. Jaraknya harus jauh, sekitar 300−500 meter. ”Saya kasih pengertian ke anak jenazah. Jangan, ini kan susunan. Pelan-pelan, ” tambahnya.

Selama pandemi, jumlah tukang gali kubur di TPU Babat Jerawat ditambah. Tidak seperti sebelum Covid-19 memorak-porandakan tatanan kehidupan. Yang lazimnya jaga malam tiga tukang kini bertambah menjadi empat orang. Total tersebut belum ditambah petugas asal TPU Pemerintah Kota Surabaya lain. ”Dari makam lain itu mampu dari Simo, misalnya. Ditambah perut orang, jadi yang jaga malam itu di tengah pandemi enam orang, ” terang Hartono.

Mandi setelah memakamkan jenazah menjadi kebiasaan anyar bagi para-para tukang gali makam TPU Babat Jerawat. Berapa kali mandi dalam sehari? ”Tergantung berapa banyak jenazah yang dimakamkan dalam sehari tersebut, ” kata Soni, salah seorang penggali makam, yang menemani Hartono berbincang dengan Jawa Pos.

Ketika pemakaman ramai pada waktu yang bersamaan, lanjut pria 29 tahun itu, mandinya dirangkap. Soni pernah harus memakamkan tiga jenazah sekaligus. ’’Ya, mandinya belakang setelah tiga jenazah selesai dimakamkan, ” katanya, lantas tertawa.

UPTD menyediakan air mendalam di kamar mandi khusus buat mereka. Selain alat pelindung diri (APD) seperti hazmat hingga wadah tangan, air mandi menjadi kebutuhan para petugas pemakaman. ”Ya, buat mandi penting banget, ” tambahan Soni.

Sama secara Hartono, Soni sempat merasa ketakutan ketika TPU Babat Jerawat dijadikan lokasi pemakaman jenazah Covid-19. Dia mengakui, saat ada rolling jadwal tugas, dia pernah berharap tidak mendapatkan tugas di TPU Babat Jerawat.

Rasa takut itu pelan-pelan sirna. Tensi waswasnya turun. Meski demikian, Soni lestari patuh protokol kesehatan. ”Saya khawatir kalau saya pulang bawa virus ke rumah. Beneran itu. Bersetuju meluk anak itu seperti ketar-ketir, ” bebernya.

Meski di TPU telah mandi, datang di rumah Soni mandi sedang. Baru setelah itu, dia gagah bercengkerama melepas rindu dengan suku kecilnya.

Suka serta duka dipupuk di atas tanah pemakaman oleh Soni dkk. Ciri dipanjatkan setiap malam untuk kesejahteraan seluruh anggota keluarga dan karakter sekitar. ”Saya pernah ada satu pemakaman jenazah yang enggak tersia-sia. Pintu mobil ambulans tidak mampu dibuka. Akhirnya, ambil jenazahnya sejak pintu samping, ” kenang Soni.

Padahal, dia menambahkan, menurut cerita petugas ambulans, saat di jalan tidak ada larangan apa pun. Perjalanan pun mampu. Sebagai petugas gali makam, Soni paling senang ketika penggalian makam berjalan cepat. ”Tapi, ya ada juga penggalian yang berlangsung lama, ” timpal Rohman, rekan Soni yang sama-sama tukang gali makam.

Baca Juga: Itu Berjuang di Garis Belakang Penanganan Covid-19 di Surabaya (1)

Rohman yang duduk dalam sebelah Soni mengungkapkan, pemakaman pada TPU Babat Jerawat berbeda secara Keputih. Pengurukan dilakukan dengan memakai cangkul. Kemudian, penggalian menggunakan jalan ekskavator. ”Pengurukan rata-rata 30−60 menit. Kalau hujan, bisa lebih lama. Bawa petinya enggak karu-karuan. Disedot sama mesin diesel dulu, ” paparnya.

Pria 38 tahun itu mengatakan, para aparat paling sedih jika mendapat kotak yang berat ketika diangkat. Mereka akan menghampiri keluarga. ”Saya sejumlah, yang belum ikhlas monggo diikhlaskan. Kasihan jenazah. Mari kita doakan bersama, kami baca Al Fatihah bersama-sama, ” kata Rohman secara nada lirih.

Sejak Maret hingga kini, ada ribuan orang yang dimakamkan di TPU Babat Jerawat. Mereka menempati arah XI dan XII. Luas tanah khusus Covid-19 sekitar satu hektare.

Saksikan video menarik berikut ini:

Gubernur Ganjar Sarankan Bioskop Tidak Dibuka saat Pandemi Covid-19

Gubernur Ganjar Sarankan Bioskop Tidak Dibuka saat Pandemi Covid-19

JawaPos. com –Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyarankan pada para pengelola agar tidak menggelar serentak bioskop saat pandemi Covid-19. Dia mewanti-wanti pengelola bioskop berhati-hati karena masih banyak daerah pada Jateng yang persebaran Covid-19 masih tinggi.

”Untuk Jawa Tengah ya hati-hati dulu. Apalagi ota Semarang. Saya menyarankan jangan sekarang, ” kata Ganjar semacam dilansir dari Jarang di Semarang.

Ganjar sebenarnya berharap pengelola bioskop melakukan inovasi berupa bioskop drive in atau penonton berada di dalam mobil yang pernah dilakukan di Marina Convention Centre (MCC) masa pentas musik beberapa waktu berarakan. Dengan metode menonton bioskop seperti itu, penonton akan mempersiapkan diri secara baik di mobil masing-masing & mengurangi risiko penularan Covid-19.

”Kalau boleh ya, bioskopnya itu dengan drive in , saya pengen justru pengusaha bioskop membuka itu. Jadi, bioskopnya tetap jalan, masyarakat damai, ” ujar Ganjar.

Kalau memang dipaksakan masuk pada gedung bioskop seperti biasa, Ganjar meminta pengelola mempersiapkan betul protokol kesehatannya.

”Kalau mampu dipasang UV di dalamnya. Jika itu semua dilengkapi, mungkin bakal sedikit aman. Jika tidak, daya penularan Covid-19 di dalam gedung bioskop cukup tinggi karena posisinya yang tertutup rapat, dikhawatirkan virus akan mudah menyebar, ” kata Ganjar.

Kendati serupa itu, Ganjar mengizinkan dilakukan uji jika pembukaan bioskop di daerah-daerah dengan sudah masuk zona hijau dan sudah dipersiapkan dengan baik aturan kesehatannya. ”Kalau zona hijau dan sudah disiapkan protokolnya dengan indah, saya kira boleh juga dilakukan uji coba, ” tutur Membalas.

Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) berencana membuka serentak bioskop di seluruh Indonesia pada awal September. Saat itu, masih menunggu keluarnya izin dari pemerintah.

Saksikan video menarik berikut ini:

Tidak Percaya Tertular, Keluarga Buka Paksa Peti Jenazah Pasien Covid-19

Tidak Percaya Tertular, Keluarga Buka Paksa Peti Jenazah Pasien Covid-19

JawaPos. com –Pihak keluarga pasien Covid-19 pada Senin (24/8) malam, membuka paksa kotak jenazah dan melakukan pemakaman tunggal. Mereka mengaku melakukan itu sebab belum mendapatkan bukti jenazah terkena Covid-19.

”Penyebab terjadi penolakan oleh keluarga di Kelurahan Taeh Baruah tersebut karena pihak keluarga tidak percaya bahwa penderita betul-betul terjangkit Covid-19, ” kata pendahuluan Kapolres Payakumbuh AKBP Dony Setiawan seperti dilansir dari Antara di Payakumbuh.

Menurut dia, pihak keluarga hanya mendapatkan pemberitahuan melalaikan lisan tanpa ada keterangan terekam dari otoritas berwenang. Selain itu, pihak keluarga juga tidak mempercayai penjelasan dari gugus tugas bahwa pasien berinisial YS sudah dimandikan sesuai protokol. Sehingga, keluarganya berinisiatif memandikan dan memakamkan tanpa adat Covid-19.

”Padahal pemulasaran, mulai dimandikan, dikafani, dan disalatkan sudah diikuti atau dilihat bagian keluarga, ” ujar Dony.

Menurut dia, warga di dalam awalnya sudah sepakat akan memasukkan anjuran dari gugus tugas. Cuma saja, karena mereka tidak mempercayai keterangan petugas, sehingga terjadi situasi tersebut. ”Tapi, setelah melihat bukti surat dari Laboratorium Universitas Andalas Padang, mereka baru ketakutan & menyadari kesalahan. Saat ini sudah ada yang dites usap, ” ujar Dony.

Era ini, lanjut dia, pihak tim sudah diamankan sebanyak enam orang yang terdiri atas adik peranakan, anak, dan adik ipar. ”Setiap anggota keluarga ini perannya bertentangan. Ada yang memandikan, mengangkat peti, dan memakamkan, ” terang Dony.

Dia menyebutkan, peristiwa itu merupakan yang pertama. Padahal sudah tujuh kasus yang melaksanakan pemulasaran jenazah di Payakumbuh dan belum ada penolakan. ”Karena benar dari rumah sakit langsung ke pemakaman. Kalau yang sekarang diantar ke rumah, jadi ada jalan oleh pihak keluarga, ” perkataan Dony.

Dia memasukkan, menimbang kondisi yang ada zaman ini, pihaknya tidak akan melanjutkan proses pidana. Tapi, pihak suku telah menandatangani surat perjanjian buat tidak melakukan hal seperti tersebut lagi. Pihaknya juga tidak menemukan adanya unsur memprovokasi karena satu kompleks tempat tinggal itu cuma diisi keluarga semua. ”Sebenarnya ada pidana. Aparat penegak hukum bisa menggunakan pasal 178 KUHP, ” kata Dony.

Saksikan video menarik berikut itu:

Simpulan Suap Pencabutan Red Notice Djoko Tjandra Terima Aliran Dana

JawaPos. com –Tiga tersangka kasus terkaan suap terkait pengurusan pencabutan red notice Djoko Tjandra mengaku menerima jalan dana dari Djoko. Ketiga simpulan itu adalah Tommy Sumardi, Brigjen Prasetijo Utomo, dan Irjen Napoleon Bonaparte.

”Kami pastikan memang mereka menerima aliran dana itu, ” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Awi Setiyono serupa dilansir dari Kurun di Kantor Bareskrim Polri, Jakarta.

Peristiwa itu terungkap saat penyidik Bareskrim memeriksa ketiganya selama hampir 12 jam. Awi tidak bisa menyebutkan jumlah uang yang diberikan Djoko kepada ketiga tersangka untuk mengatur penghapusan red notice .

”Nominalnya tetap sudah masuk ke materi pemeriksaan, saya tidak bisa sampaikan. Belakang dibuka semuanya di pengadilan, ” kata Awi.

Menurut dia, saat diperiksa Senin (24/8) Djoko juga mengaku telah menyerahkan sejumlah uang untuk ketiga tersangka. Terpaut uang yang diterima para tersangka itu akan dikonfrontasi dengan instrumen bukti lainnya.

”Kalau itu berupa transfer atau cash and carry , nanti semuanya didalami penyidik. Dan itu akan dibuka semuanya pada pengadilan. Kami sudah lakukan pemeriksaan dan mereka telah mengakui menyambut uang tersebut, ” ujar Awi.

Bareskrim Polri sudah menetapkan Djoko Tjandra sebagai simpulan kasus dugaan suap pengurusan penghapusan red notice Djoko Tjandra. Penyidik selalu menetapkan Tommy Sumardi, Brigjen Prasetijo Utomo, dan Irjen Napoleon Bonaparte berstatus tersangka dalam kasus itu. Djoko Tjandra dan Tommy Sumardi diduga berperan sebagai pemberi suap, sedangkan Brigjen Prasetijo dan Irjen Napoleon menjadi penerima suap.

Saksikan video memikat berikut ini:

Hasil Survei: 77 Persen Perempuan Mengaku Dibully karena Berjerawat

Hasil Survei: 77 Persen Perempuan Mengaku Dibully karena Berjerawat

JawaPos.com – Masalah jerawat adalah masalah kulit yang umum dialami oleh setiap orang. Jika produksi jerawat berlebihan, maka bisa menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa tak percaya diri.

Berdasarkan survei yang dilakukan brand kecantikan dan kesehatan, Himalaya, kepada lebih dari 1.000 perempuan yang mengalami masalah jerawat di lebih dari 10 kota besar di Indonesia, sebanyak 77 pejuang jerawat pernah mengalami acne shaming. Yaitu perbuatan atau praktik bully verbal atau mempermalukan seseorang dengan menghina. Pelakunya melontarkan kalimat negatif mengenai jerawat mereka yang dapat memicu masalah kesehatan mental.

Lewat kampanye bertajuk #AlamiLawanJerawat, perempuan diajak untuk lebih percaya diri lewat lagu berjudul ‘Win the Fight’ bersama rapper perempuan Yacko dan musisi Mardial. Kampanye #AlamiLawanJerawat ini bertujuan untuk mengirimkan pesan solidaritas kepada orang-orang yang berjuang dalam mengatasi masalah jerawat, atau pejuang jerawat, dalam perjalanan mereka melawan jerawat.

Dari hasil survei yang sama, hampir 75 persen pejuang jerawat mengatakan bahwa masalah jerawat memengaruhi kehidupan profesional dan akademis mereka. Sebanyak 60 persen pejuang jerawat mengatakan bahwa masalah jerawat juga mempengaruhi kehidupan sosial mereka, seperti tidak mau bertemu orang baru atau bersosialisasi. Bahkan pejuang jerawat mengaku bahwa berurusan dengan jerawat seringkali berujung pada rasa frustrasi sebanyak 20 persen atau bahkan depresi sebanyak 13 persen.

“Kami menemukan bahwa jerawat merupakan masalah yang besar bagi banyak orang. Bagi pejuang jerawat, masalah ini tidak hanya memberikan rasa sakit secara fisik, namun juga secara mental,” ujar Marketing Manager Himalaya APAC, Monica Joyappa kepada wartawan baru-baru ini secara daring.

Rapper tanah air, Yacko menuturkan pengalamannya karena masalah jerawat yang dihadapi. “Selain body shaming, satu hal lain yang paling saya benci adalah acne shaming. Lewat musik, saya menyampaikan suara dan dukungan kepada seluruh pejuang jerawat dalam perjuangan sehari-hari mereka melawan jerawat dan stigma yang menyertainya,” ujar Yacko.

“Pesan dalam lagu ini sangat sederhana, yakni kita tidak boleh kalah oleh negativitas,” tambah Yacko.

Untuk Empati

Pandemi Covid-19 –kalau Anda belum bosan mengikuti percakapan tentang ini– mengandung sebuah paradoks. Di satu sisi, ia membuat kita, untuk berjaga-jaga, memisahkan diri dari orang lain.

—

INI perpisahan dengan jaga jarak 2 meter maupun dengan karantina diri beberapa hari.

Di pihak lain, pandemi ini menimbulkan keadaan senasib: memakai masker adalah tindakan melindungi diri. Dan pada saat yang sama, melindungi orang lain –mencegah orang lain terpapar– berarti kita mencegah diri sendiri tertular. Batas jadi tak jelas antara sikap ”mementingkan diri sendiri” dan ”memikirkan nasib orang lain”

Pengalaman dengan pandemi ini memang bisa membingungkan; karena itu saya tak mau merasa paling tahu serta menyalah-nyalahkan orang lain. Apalagi, siapa pun tak punya pengalaman dengan Covid-19: pakar epidemiologi maupun pejabat, pemimpin agama maupun pekerja kesehatan, kali ini menghadapi sesuatu yang baru, bukan hanya untuk abad ke-21.

Tiap kebijakan dan tiap teori selalu dimulai dengan sifat mencoba-coba. Kesalahan umum terjadi dan itu tak bisa dielakkan –meskipun tak bisa diulangi.

Kalau saya ditanya bagaimana menghadapi semua itu, saya cenderung menjawab: Saya ingin kembali kepada empati, kepada ”tepo sliro”, dan melihat ini semua sebagai proses. Telah begitu banyak analisis, informasi yang berubah cepat, yang membingungkan –dan menghendaki kesabaran. Mungkin juga kerendahan hati.

Ini semacam petuah kuno, tapi yang kuno tak berarti tak sah. Sebab, melihat beratnya keadaan, empati adalah hal yang wajar –kepada semua yang terpapar, para petugas yang bekerja untuk yang dirawat dan dites, pejabat pusat dan daerah yang berusaha mengatasi keadaan ini. Mereka tentu pernah melakukan kesalahan dalam suasana yang baru ini. Dan di sinilah kita perlu melihat keadaan sebagai proses: kesalahan bisa jadi ”insight” baru.

Juga bahwa keadaan bisa berubah. Tentu saja perubahan perlu disertai aksi perbaikan. Saya sangat mengagumi mereka yang menghimpun pertolongan buat yang tersingkir dari nafkah dan kerja. Saya sangat mengagumi mereka yang masuk ke pelosok desa dan kota misalnya untuk membangun tempat cuci tangan, menjelaskan protokol kesehatan kepada mereka yang terbelakang mendapat informasi.

Mereka adalah kekuatan empati. Memperlakukan sesama sebagai sesama. Mereka bukan penyinyir, yang merasa lebih ulung ketimbang orang lain, termasuk orang lain yang bekerja dengan keringat, kecemasan, kekhilafan, tapi penuh komitmen. (*)

DPW PAN Jatim Dukung Penuh Anak Seskab di Pilkada Kabupaten Kediri

DPW PAN Jatim Dukung Penuh Anak Seskab di Pilkada Kabupaten Kediri

JawaPos.com–DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Timur meminta kader di daerah itu untuk mendukung penuh Hanindhito Himawan Pramono, anak dari Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung, yang maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Kediri.

”Dari awal kami komunikasi dan rekomenasi dari PAN memang ke Dhito. Kami juga komunikasi dengan Gus Sunoto (Ketua DPC PAN Kota Kediri) sejak awal dan memang full ke sana,” kata anggota Majelis Pertimbangan Partai (MPP) DPW PAN Jatim Fachrudin seperti dilansir dari Antara di Kediri.

Dia menyatakan, partainya menilai Dhito sosok pemuda yang mempunyai pandangan ke depan cukup baik. Beberapa yang dijanjikan, misalnya terkait dengan tindak lanjut setelah pembangunan bandara udara di Kabupaten Kediri dan realisasi pembangunan jalan tol.

”Ada beberapa hal yang Pak Dhito sampaikan, kaitannya dengan janji yang bandara itu dan jalan tol. Itu yang membuat seorang anak muda idenya, konsepnya yang disampaikan ke kami. Terakhir dari komunikasi jalan tol itu akan segera tersambung Kediri-Tulungagung,” ujar Fachrudin.

Sementara itu, tokoh muda DPD PAN Kota Kediri yang juga Ketua DPRD Kota Kediri Kholifi Yunon mengatakan, partai telah memerintahkan agar PAN Kota Kediri juga membantu pemenangan untuk kemenangan Dhito yang hendak maju di Pilkada Kabupaten Kediri.

”Ketum telah memerintahkan ke seluruh jajaran di Kota dan Kabupaten Kediri untuk menyukseskan Dhito sebagai Bupati Kediri. Perintahnya tegas bahwa seluruh jajaran pengurus PAN harus membantu mrnyukseskan,” kata Kholifi.

Dia menambahkan, hal yang bisa dikomunikasikan, misalnya soal strategi pemenangan saat pilkada, tujuannya agar Dhito sukses sebagai Bupati Kediri. ”Harapannya ke depan kita bisa sinergi, karena banyak persoalan Kota Kediri yang harus kami sinergisitaskan dengan Kabupaten Kediri, seperti ring road dan lain-lain,” kata Kholifi.

Hanindhito Himawan Pramono akan maju Pilkada Kabupaten Kediri bergandengan dengan Dewi Maria Ulfa yang merupakan Ketua Fatayat NU Kabupaten Kediri di Pilkada 2020 Kabupaten Kediri. Pasangan itu mengantongi rekomendasi hampir semua partai di Kabupaten Kediri.

Saksikan video menarik berikut ini:

Di dalam Mulanya Adalah Panci

Di dalam Mulanya Adalah Panci

JawaPos. com – Sitok Srengenge menghadirkan karya-karya terbarunya dalam pameran bertajuk Malih Rupa . Pameran di Jiwa Jawi, Yogyakarta, ini menampilkan 22 lukisan seri alumunium karya-karya anyar Sitok hingga 22 September 2020. Malih Rupa terbuka buat umum dengan penerapan protokol Covid-19.

Malih Rupa tidak lepas dari inspirasi Sitok era mendapati sebuah panci alumunium petunjuk yang teronggok di antara rangkaian empon-empon dan kembang perdu liar. Saat itu dia berada pada tengah perkabungan kepergian kakaknya dalam Blora pada 2017. Saat para pelayat berdatangan dan berkhidmat, sementara di dapur padat oleh kesibukan masak memasak; Sitok melihat kuali besi alumunium bekas yang telah kumal, renyuk dan rongsok.

Wujud panci bekas itu memprovokasi asosiasinya tentang lapisan batuan, bukit, tebing cadas, hingga liuk ranah dan rongga-rongga gua bawah negeri. ’’Semua itu mengingatkan pada lukisan-lukisan bertekstur yang telah saya untuk, ’’ terang Sitok dalam pesan pamerannya.   Terutama pada komposisi tipis pada sebagian lukisan seimbang Chaosmos atau pada tekstur tebal pada hampir seluruh seri Soulscape yang semuanya dipamerkan di Langit Art Space, Yogyakarta pada 2017 lalu.

Sitok membutuhkan waktu untuk menguji wujud inspirasi dan pendirian yang didapatnya dari panci alumunium bekas itu. Mula-mula, dia menciptakan dua lukisan berukuran 200 x 250 cm yang memanfaatkan alumunium bekas sebagai medianya. Keduanya menjelma medan eksplorasi dan percobaan Sitok untuk menguji bagaimana alumunium bisa menyatu dengan unsur-unsur lain yang membangun karya. Dua karya itu lantas sengaja Sitok diamkan sambil terus dia amati.

Pengamatan pada dua karya itu Sitok lakukan selama hampir tiga tahun. Proses ini bersamaan dengan keasyikan Sitok menelisik wacana deskilled art yang disuarakan seniman Australia, Ian Burn. ’’Bagi saya gagasan tersebut sungguh menarik, ’’ kata Sitok. Meminjam konsep dalam Sosiologi, gagasan ini percaya pada kebebasan kreator lepas dari kebakuan konvensi penciptaan sebuah karya, baik dalam situasi teknis maupun pilihan media.

’’Malih Rupa mencoba menganjurkan pemaknaan kembali atas yang redup, termasuk yang usang dan terbuang dengan perwujudan baru, ’’ terang Sitok. Karya-karya dalam pameran itu semuanya menampilkan alumunium bekas sebagai bagian penting. Semuanya berasal lantaran perkakas alumunium yang lazim terlihat dalam keseharian seperti saringan bajan, dandang, cerek, wajan, panci, dan lain-lain.

Butuh gaya ekstra untuk mengumpulkan perkakas petunjuk itu dari bedeng-bedeng penampung rombengan. Maklum, alumunium bekas dalam wujud apa pun selalu menjadi komoditas primadona di perdagangan barang binasa. Sitok harus bersaing secara para bos rombengan yang selalu cekatan membidik alumunium.

Berangkat dari barang bekas memakai, Malih Rupa tidak menunjukkan bentuk-bentuk karya yang berada di hidup seni objek temuan. Tidak tersedia wujud perkakas berbahan alumunium tanda yang muncul dalam Malih Gaya. Semuanya telah menjadi bidang hambar dengan unsur-unsur lain seperti pewarna hingga korosi yang kuat dengan visual. Pameran ini menunjukkan bagaimana perubahan wujud dari yang sudah silam, tak terpakai, bekas, dan berkerumuk; saat dikelola dengan beraneka macam unsur dapat menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda serta terakhir. (tir)