Awak Advokasi Novel: Vonis untungkan Ke-2 Terdakwa dan Kepolisian

Awak Advokasi Novel: Vonis untungkan Ke-2 Terdakwa dan Kepolisian

JawaPos. com – Tim advokasi Novel Baswedan menilai, proses persidangan hingga vonis teehadap pelaku penyerangan Novel Baswedan merupakan  skenario ideal.   Skenario sempurna ini ditunjukkan oleh sikap kedua terdakwa yang menerima dan tidak banding, walaupun diputus lebih berat dari tuntutan penuntut umum.

Diketahui, dua tersangka penyiraman air keras terhadap Roman Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis, masing-masing dihukum dua tahun penjara dan satu tahun enam bulan penjara. Vonis keduanya lebih berat dari tuntutan mulia tahun penjara jaksa penuntut umum (JPU).

“Skenario tersebut adalah tuntutan yang ringan untuk mengunci putusan hakim.   Nyaris tidak ada putusan yang dijatuhkan terlalu jauh dari tuntutan, kalaupun lebih tinggi daripada tuntutan. Misalnya tidak mungkin hakim berani menjebloskan pidana 5 tahun penjara untuk terdakwa yang dituntut 1 tahun penjara. Mengapa putusan harus mudah, agar terdakwa tidak dipecat daripada Kepolisian dan menjadi whistle blower/justice collaborato r, ” kata anggota tim pembelaan, Kurnia Ramadhana dalam keterangannya, Jumat (17/7).

Penting ditegaskan kembali, kata Kurnia, sejak depan persidangan Tim Advokasi Novel Baswedan sudah mencurigai proses peradilan dijalankan hanya untuk menguntungkan para terdakwa. Kesimpulan itu bisa diambil dibanding dakwaan, proses unjuk bukti, tuntutan Jaksa, dan putusan yang dasar menafikkan fakta-fakta sebenarnya.

Kurnia memandang, vonis dua tarikh dan satu tahun enam bulan terhadap kedua terdakwa,   bagian yang paling diuntungkan adalah jawatan Kepolisian. Sebab dua terdakwa dengan notabene berasal dari anggota Kepolisian tidak mungkin dipecat, karena balasan tidak lebih dari dua tahun.

“Sikap yang tak mengungkap kejapolitik sampai akarnya pada saat ini hanyalah perulangan terhadap kasus-kasus serangan terhadap aktivis antikorupsi serta aktivis-aktivis lain dan penegak patokan pemberantas korupsi, ” sesal Kurnia.

Kurnia menyebut, proses persidangan  juga menunjukkan potret penegakan hukum di Indonesia tidak sudah berpihak pada korban kejahatan. Terlebih lagi, korban kejahatan dalam pasal ini adalah penegak hukum dengan bekerja di KPK.

“Maka dari itu, kami meyakini di masa yang akan datang para penegak hukum, khususnya Pemeriksa KPK, akan selalu dibayang-bayangi sebab teror yang pada faktanya tidak pernah diungkap tuntas oleh negara, ” cetusnya.

Sebab karena itu, tim advokasi tidak henti-hentinya mendesak  Presiden Joko Widodo untuk segera membentuk Tim Ikatan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki ulang kasus penyiraman air membanting yang menimpa Penyidik KPK, Roman Baswedan.

“Sebab, penanganan perkara yang dilakukan oleh Kepolisian terbukti gagal untuk mengungkap ringkasan dan aktor intelektual kejahatan ini, ” tandasnya.

Seperti diketahui, majelis hakim telah memvonis pelaku penyerangan Novel pada Kamis (16/7). Kedua anggota Brimob Polri itu, Rahmat Kadir Mahulette divonis dua tahun tangsi, sedangkan Ronny Bugis divonis satu tahun enam bulan penjara. Vonis tersebut lebih berat dari tuntutan satu tahun penjara JPU.

Perbuatan  kedua tersangka menyebar mata Novel Baswedan menemui luka berat. Sehingga kornea serampangan kanan dan kiri berpotensi menjadikan kebutaan.

Kedua terdakwa melakukan perbuatannya karena membenci Novel Baswedan yang dinilai telah mengingkari dan melawan institusi Polri. Keduanya kemudian pada 11 April 2017 bertempat di Jalan Deposito Blok T Nomor 10 RT 003 RW  010 Kelurahan Pegangsaan Perut, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara  sekitar pukul 05. 10 WIB menyiram cairan asam sulfat (H2SO4) atau air aki kepada Roman Baswedan yang keluar dari Langgar Al-Ikhsan menuju tempat tinggalnya.

Akibat ulah kedua terdakwa, cidera yang dialami Novel itu disebutkan berdasarkan hasil visum et repertum nomor 03/VER/RSMKKG/IV/2017 yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Mitra Keluarga menyatakan ditemukan luka bakar dibagian wajah dan kornea mata kanan dan kiri Novel.

Ronny Bugis dan Rahmat Kadir divonis melanggar Pasal 353 bagian (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (*)