Ini Cara Kemenkeu Telusuri Pegawainya Terlibat Korupsi Impor Tekstil

Ini Cara Kemenkeu Telusuri Pegawainya Terlibat Korupsi Impor Tekstil

Ini Cara Kemenkeu Telusuri Pegawainya Terlibat Korupsi Impor Tekstil

JawaPos. com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membeberkan kontribusi pegawai Direktorat Jenderal Bea (DJBC) dalam kasus dugaan korupsi impor tekstil. Inspektur Jenderal Kemenkeu, Sumiyati mengungkapkan, kasus tersebut telah ditangani oleh Inspektorat Jenderal sejak awal Maret 2020.

“Kami sudah ketahui sehubungan dengan implementasi sistem manajemen risiko di Kementerian Keuangan, termasuk di Direktorat Jenderal Bea Cukai, ” ujarnya dalam konferensi video, Kamis (25/6).

Sumiyati menyebut, bandela dan barang yang masuk melalaikan Batam kemudian diteruskan perjalanannya ke pelabuhan lain di wilayah duane dapat terus diikuti. Sehingga, andaikata ditemukan adanya risiko, maka penjagaan dan penjagaan dapat dilakukan pada lapisan berikutnya.

Menurutnya, manajemen risiko yang sudah berlaku merupakan praktik yang bagus. Sehingga dapat diketahui begitu pemeriksaan fisik dan pengujian laboratorium itu terlihat adanya perbedaan jumlah, maupun jenis tekstilnya.

“Misalnya sekadar, kontainer dari Batam yang dikirim ke Tanjung Priok, maka bisa diperiksa fisiknya di pelabuhan dalam utara Jakarta itu, ” tuturnya.

Ia memastikan, Direktorat Jenderal Bea Cukai sudah menindaklanjutinya dengan baik. Serangkaian pemeriksaan serta penyidikan sudah dilakukan sejak enam April 2020. Pada 20 April 2020 Ditjen Bea Cukai telah melakukan penangkapan dan penahanan tersangka.

Pihaknya akan tetap mendampingi penyidikan yang masih berlangsung hingga saat ini untuk mendapatkan gambaran utuh kasus tersebut. Direktorat Jenderal Pajak juga sudah digandeng dengan melakukan program dan audit bersama.

“Seperti cara bisnis, atau regulasi yang tersedia kelemahan maka diberikan rekomendasi buat dilakukan perbaikan, ” tutupnya.

Sebagai informasi, pada Selasa (24/6), Kejaksaan Agung telah menetapkan lima orang tersangka dalam kejadian dugaan korupsi impor tekstil dalam Direktorat Jenderal Bea Cukai tahun 2018 sampai 2020. Mereka terdiri dari empat pejabat aktif dalam Direktorat Jenderal Bea dan Tol Batam, serta satu pengusaha.

Keempat tersangka di antaranya, MM, DA, HAW, dan SOPAN SANTUN yang merupakan pejabat dari Imbalan dan Cukai Batam. Kemudian seorang lagi yakni IR selaku pemilik PT Fleming Indo Batam dan PT Garmindo Prima.

Modusnya, dengan mengurangi volume serta jenis barang. Tujuannya, mengurangi kewajiban bea masuk tindakan pengamanan tengah dengan menggunakan surat keterangan asal (SKA) yang tidak benar.