Inggris, Saudi, dan Pakistan Mulai Pakai Dexamethasone

Inggris, Saudi, dan Pakistan Mulai Pakai Dexamethasone

Inggris, Saudi, dan Pakistan Mulai Pakai Dexamethasone

Keluaran SGP – Khasiat dexamethasone baru diungkap kira-kira hari. Meski begitu, beberapa negara sudah menyatakan diri siap menjadikannya sebagai obat untuk pasien Covid-19. Namun, di Indonesia efektivitas obat itu terhadap Covid-19 masih dibahas.

Arab Saudi, Pakistan, dan Inggris adalah tiga negara yang saat ini sudah meyakinkan akan memakai obat tersebut.

Mereka berharap obat melimpah yang banyak di pasaran tersebut benar-benar mampu menekan angka janji akibat Covid-19. Universitas Oxford, Inggris, mengungkap efektivitas penggunaan dexamethasone pada Selasa (16/6). Inggris tentu sekadar langsung memastikan memakai saat tersebut juga. Hanya berselang sehari, Arab Saudi melakukan hal serupa. Departemen Kesehatan Arab Saudi setuju penggunaan obat jenis steroid tersebut buat pasien yang menjalani perawatan di ICU dan pasien yang telah memakai bantuan oksigen.

’’Penggunaan dexamethasone itu akan dilakukan mulai pekan ini, ’’ Demikian bunyi pernyataan Kementerian Kesehatan Arab Saudi seperti dikutip Saudi Press Agency . Pemerintah Arab Saudi memang harus lekas menemukan jalan keluar untuk memulihkan para pasien secepatnya. Sebab, kejadian di negara tersebut terus melonjak. Hingga Rabu (17/6) penularan harian sudah mencapai 4. 919 urusan. Kemarin (18/6) total kasus dalam Saudi mencapai 145. 991 serta korban meninggal 1. 139 karakter.

Sejalan dengan Saudi, Pakistan memilih untuk mencoba memakai dexamethasone. Selama ini negara itu lebih banyak memakai Avifavir produk Rusia. ’’Ini (dexamethasone, Red) adalah obat anti peradangan yang telah lama ada serta murah serta kami punya beberapa produsennya dalam Pakistan, ’’ ujar Menteri Kesehatan tubuh Pakistan Zafar Mirza.

Stok dexamethasone di negara tersebut lebih dari cukup untuk memasukkannya sebagai obat standar perawatan pasien Covid-19. Obat tersebut tidak bakal diberikan kepada pasien dengan petunjuk ringan hingga sedang. Pemerintah serupa melarang penduduk membeli serta menggunakan obat tersebut sendiri tanpa petunjuk dokter.

Berdasar penelitian, dexamethasone bisa mengurangi angka maut sekitar 35 persen pada pasien yang memakai ventilator. Sedangkan buat yang membutuhkan oksigen tambahan, obat itu bisa memangkas kematian maka 20 persen. Harganya yang gampang juga menjadi poin plus untuk negara kelas menengah seperti Pakistan.

Dexamethasone dipakai buat mengurangi inflamasi sejak 1960-an. Ia juga dipakai untuk obat kanker jenis tertentu. Dexamethasone masuk daftar obat penting versi WHO semenjak 1977. Obat tersebut tersedia di sebagian besar negara di dunia dengan harga yang relatif murah.

Sementara itu, Inggris langsung meningkatkan stok dexamethasone. Mereka juga tengah memesan 240 ribu dosis sebagai tambahan. Pengobatan secara dexamethasone akan dipakai Lembaga Kesehatan tubuh Nasional (NHS) sebagai standar modus perawatan pasien Covid-19 di Inggris. ’’Obat ini bisa segera dimanfaatkan di seluruh dunia untuk menyelamatkan nyawa pasien, ’’ ujar Kepala Penasihat Sains Inggris Sir Patrick Vallance.

Perusahaan-perusahaan farmasi juga mulai melirik obat tersebut untuk diproduksi masal. Salah satunya Cipla yang berbasis di India. Ia adalah salah satu kongsi obat generik yang terbesar pada dunia. ’’Kami membuat tetes serampangan dexamethasone dan kami akan cepat membuat tablet obat tersebut untuk India, ’’ terang Chairman Cipla Yusuf Hamied seperti dikutip Financial Times . Hikma Pharmaceuticals juga menyatakan bahwa seruan dexamethasone ke perusahaannya melonjak cendekia sejak penelitian di Inggris itu diungkap ke publik. Hal sejenis dialami EMS, perusahaan obat pokok Brasil.

Sementara tersebut, para ahli di Indonesia masih membahas kegunaan dan dampak obat tersebut. Ketua Satgas Covid-19 PB IDI Prof Zubairi Djoerban SpPD menyatakan, dalam riset yang dilakukan peneliti Inggris, ada dua peristiwa yang dapat dipetik. Pertama, penerapan klorokuin (chloroquine) yang selama itu diberikan kepada pasien Covid-19 ternyata tidak efektif. Sedangkan dexamethasone dinyatakan bermanfaat bagi pasien Covid-19. ”Dalam laporan riset itu, penggunaan dexamethasone hanya sepuluh hari, ” ungkapnya.

Zubairi mengaku akrab dengan obat tersebut. Sebab, ahli penyakit di dalam itu sering menggunakan obat itu untuk penyakit autoimun. Berdasar pengalamannya, obat itu aman dikonsumsi selama dalam pantauan dokter. ”Kalau tersedia efek samping, semua obat tentu ada. Namun bisa diminimalkan, ” ujarnya. Dexamethasone, jelas Zubairi, merupakan jenis obat G atau kritis. Karena itu, pasien tidak dapat membeli dan mengonsumsi obat itu dengan sembarangan. Namun, dia tak memungkiri, bisa saja obat itu diperoleh dengan mudah.

Plt Ketua Program Studi Farmasi Klinik dan Komunitas Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung Neng Fisheri Kurniati mengungkapkan, hingga saat tersebut pihaknya belum menerima laporan sempurna tentang riwayat penggunaan obat dexamethasone pada pasien Covid-19. Terutama anak obat dengan gejala gangguan pernapasan mengandung.

Dari berbagai tulisan yang beredar, kata Neng, dexamethasone dapat mengurangi hiperinflamasi yang dipicu sistem imun seseorang saat tubuhnya berperang melawan virus. Hiperinflamasi inilah yang mengakibatkan gangguan pernapasan dalam pasien Covid-19 kategori sedang dan berat. Namun, efek dexamethasone itu tidak terlihat pada pasien skala ringan.

”Dugaan sementara kami, mekanisme dari dexamethasone tersebut adalah menurunkan reaksi hiperinflamasi dengan terjadi pada pasien Covid-19 berat, ” jelasnya. Namun, obat tersebut juga mengandung efek samping dalam tubuh. Efek samping yang dihasilkan adalah mual, muntah, kegemukan, osteoporosis, meningkatnya kadar gula darah, meningkatnya tekanan darah, katarak, gangguan mood, dan sebagainya.

Pengaruh samping itu sifatnya ada yang parsial menghilang ketika obat dihentikan. Namun, ada pula yang menetap. Artinya, tidak dapat hilang meskipun obat dihentikan seperti efek tepi pada kardiovaskuler, mata, dan terampil.

Neng mengatakan, secara umum, pengobatan suatu penyakit dipandang dari benefit (risk-ratio)-nya. Jika benefitnya lebih besar daripada risikonya, obat dapat digunakan, begitu juga sebaliknya. Pada pasien Covid-19 berat, khasiat penggunaan dexamethasone lebih besar karena mampu mengurangi kematian. ”Namun, sungguh bijaksana jika kita menunggu full report dari studi ini untuk mengetahui lebih jelas kebermanfaatannya pada penanganan pasien Covid-19, ” tuturnya.

Saksikan gambar menarik berikut ini: