Rencana Calon Jamaah Haji yang Tertunda karena Pandemi Covid-19

Rencana Calon Jamaah Haji yang Tertunda karena Pandemi Covid-19

Rencana Calon Jamaah Haji yang Tertunda karena Pandemi Covid-19

Keputusan pemerintah untuk tidak memberangkatkan jamaah haji tahun ini mengejutkan Supriyanto. Ikhlas dan tawakal menjadi kunci keyakinannya bahwa rencana yang jauh lebih baik sedang dipersiapkan oleh Sang Mahakuasa.

M. AZAMI RAMADHAN , Surabaya

Tangan Supriyanto gemetar, matanya berkaca-kaca. Pandangannya lekat di smartphone-nya yang menayangkan live streaming suasana Masjidilharam di Makkah Selasa malam (9/6). Pada musim haji mendatang, seharusnya dia tidak cuma bisa memandangi lokasi itu sebab layar smartphone, tapi juga menjejakkan kaki dan merasakan langsung suasananya.

Sayang, pandemi Covid-19 berandil besar menggagalkan keinginannya segera menutup ibadah haji. Tahun ini negeri memutuskan untuk tak memberangkan jamaah haji ke Arab Saudi lantaran pandemi yang belum menunjukkan isyarat mereda.

Keinginan abu tiga anak itu pun tertunda. Meski gagal melaksanakan rukun Agama islam kelima tersebut, pria 56 tarikh itu memilih ladang kebaikan yang lain. Mengabdikan diri pada kemanusiaan, menjelma relawan penanggulangan Covid-19 di desanya, Janti, Waru, Sidoarjo.

Supriyanto ingat betul detik-detik masa mendengar dan membaca informasi tentang keputusan peniadaan ibadah haji tahun ini. Saat itu, dia memasukkan perkembangan melalui salah satu tumpuan televisi nasional. Bagi dia, fakta itu benar-benar mengejutkan. Tapi, dia telah berusaha menata hati buat menerima keputusan tersebut sejak April.

”Tahunya dari informasi kalau dua kota suci di-lockdown sama (Arab) Saudi. Dari danau mulai belajar ikhlas, ” cakap Supriyanto yang seharusnya berangkat ke Tanah Suci bersama kloter (kelompok terbang) 2 Bandara Juanda. Semenjak saat itu, Supriyanto berusaha pasrah dan berpikir positif. Sebab, patuh dia, keputusan lockdown oleh negeri Arab Saudi tersebut merupakan metode yang tegas untuk memutus ceroboh rantai persebaran virus korona terakhir.

Berita-berita tentang Makkah dan ibadah haji selalu dicarinya. Untuk mengobati kerinduan terhadap Masjidilharam dan Makkah, dia selalu memasukkan streaming di YouTube. ”Mulai Mei itu saya sudah meyakini jika tidak bakal dilanjut. Kalaupun dibuka, risiko dan mudaratnya jauh lebih besar, ” jelas supervisor lengah satu pabrik di Waru tersebut. ”Eh ternyata benar, ditiadakan. Awalnya tidak percaya, tapi ya telah, ” imbuhnya sembari memandang live streaming situasi Kakbah.

Dia juga mencoba untuk menenangkan hati. Salah satu alasan masuk akal yang dia pikirkan adalah tentang persiapan pelaksanaan haji jika pasti dilanjutkan. Tidak mungkin dipersiapkan cuma dalam waktu singkat. Belum lagi untuk transportasi, penginapan, makanan sehari-hari, kata dia, pasti ada sterilisasi seperti di Indonesia.

Karena itu, alih-alih khusyuk malah bingung dengan langkah antisipasi sirkulasi virus jika ibadah haji langgeng terselenggara. ”Belum lagi tenaga kesehatannya. Ya, lebih baik ditutup selalu sampai benar-benar aman, ” ujarnya.

”Saya yakin Gusti Pangeran menuntun kita dalam situasi yang baik. Ada rencana yang lebih baik lagi dari-Nya, ” ucapnya.

Dia melahirkan, ada hikmah dari setiap perihal. Selain untuk belajar lebih tekun, dia berpeluang besar bisa melihat cucu ketiganya lahir.

”Alhamdulillah, saya bisa dampingi bujang saya melahirkan nanti. HPL (hari perkiraan lahir) diprediksi akhir Agustus. Ini yang saya syukuri, ” tuturnya, lantas tertunduk. Bagi Supri, berada di sisi anak dengan melahirkan itu kebahagiaan tersendiri.

Jika berangkat akhir Juli nanti, tentu dia tidak mampu bertemu dan melihat orok daripada anak perempuan keduanya itu. Namun, karena keberangkatan ditunda, dia saat ini jauh lebih bersyukur. Ketika disinggung tentang perkembangan haji dan severe acute respiratory syndrome coronavirus dua (SARS-CoV-2) yang membuat pemerintah Saudi mengkaji untuk mengurangi jumlah jamaah hingga sekitar 100 ribu orang, dia tetap berpikir positif.

Menurut dia, adanya virus yang menyerang saluran pernapasan tersebut tetap patut disyukuri. Beruntung, introduksi dia, umat manusia ini sedang diberi virus. Artinya, manusia sedang bisa berupaya untuk menanggulangi persebaran virus tersebut. Bagaimana, lanjut tempat, jika Allah memberi ujian lainnya.

”Ndanio loh, mujur ini masih Covid. Gimana jika yang lain? Sudahlah, bagi aku, ini momen memperbaiki diri & lebih mensyukuri hidup, ” sahih Supriyanto sembari mendengarkan informasi daripada handy talkie di posko pencegahan dan pengendalian Covid-19 di Balai Desa Janti.

Saksikan video menarik berikut ini: