Aman Datang Zaman ”New Normal”

Aman Datang Zaman ”New Normal”

Aman Datang Zaman ”New Normal”

KATA   ”mantan” dalam Kamus Besar Bahasa Nusantara diartikan sebagai bekas pemangku jabatan (kedudukan). Kata mantan sering dimanfaatkan pula dalam kalimat yang mencitrakan orang yang pernah dikasihi. Namun, tulisan ini sama sekali tidak memiliki hubungan dengan orang dengan pernah memangku jabatan. Tidak pula mengupas bekas kekasih dengan dongeng romantisme asmara yang memorak-porandakan perasaan. Mantan dalam artikel ini buat menggambarkan makna sebagai segala sesuatu yang pernah berlangsung di era silam.

Pandemi Covid-19 telah mengubah sejarah. Banyak pakar tengah membahas masa depan pertama. Kehidupan diduga bakal berubah. Pokok, sangat mungkin kita semua bahan meninggalkan rutinitas yang selama tersebut kita jalani. Manusia di bumi ini diperkirakan akan menjalani sifat baru yang awalnya terasa langka dan kemudian menjadi kebiasaan pertama.

Kita tak bahan kembali pada situasi kehidupan sebelum pandemi. Kehidupan baru telah sampai. Bertemu kawan, kemudian bersalaman & berpelukan, kini seakan tak mampu kita lihat lagi. Di mana-mana kini muncul sarana cuci tangan. Orang bepergian selalu menggunakan kedok. Interaksi antarorang menjadi berjarak.

Sejumlah perubahan perilaku sosial baru terus berlangsung. Perubahan tersebut tentu membawa konsekuensi baru di kehidupan masyarakat. Konsekuensi baru dengan tidak mudah. Larangan mudik adalah contoh nyata. Orang harus membekukan rindu untuk bertemu. Orang harus saling menjaga jarak agar badannya tidak terkoyak. Semua hal perdana tersebut harus dilakukan dan boleh sampai kapan.

Perubahan Sosial

Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan transformasi sosial. Perubahan sosial yang berlaku saat ini termasuk kategori transisi sosial yang tidak direncanakan. Sebab tidak direncanakan, pastilah masyarakat tak siap menghadapinya. Bahkan, pada titik tertentu, sering membawa masalah dengan memicu kekacauan dalam masyarakat.

Perubahan sosial yang segera akibat wabah ini dapat melahirkan terjadinya disorganisasi sosial. Masyarakat dihadapkan pada situasi perubahan yang mengusik hidupnya. Sejumlah tradisi menjadi terbang dan berganti cara baru. Kebiasaan silaturahmi, berkumpul, bersalaman, dan rabaan fisik lainnya dengan orang asing saat ini tak bisa dilakukan karena protokol kesehatan.

Kita tidak tahu sampai teks pandemi ini usai. Senyampang status belum seimbang (ekuilibrium), orang hendak mengalami kegelisahan. Bahkan, jika lanjut dan tidak bisa menyesuaikan muncul dengan tata cara hidup baru, orang akan mengalami frustrasi.

Munculnya perubahan sosial terakhir dan permasalahannya perlu segera diantisipasi. Itu bukan urusan pemerintah sekadar, tetapi seluruh elemen masyarakat. Dalam konteks itulah, diperlukan sistem komunikasi harmoni antara pemerintah dan klub. Pemerintah tak bisa dengan segala kuasanya memaksa dengan instruksinya. Masyarakat juga tak boleh ngeyel nama lain kukuh dengan cara pandangnya.

Perubahan sosial akibat pandemi apa pun bentuknya telah mengganti keadaan. Sejumlah persoalan baru bakal muncul dan memerlukan penyelesaian. Biar awal persoalan berasal dari bagian kesehatan, penyelesaiannya harus komprehensif yang melibatkan pemikiran dari aspek sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya.

Perspektif ”New Normal”

Perubahan baik akibat pandemi pada akhirnya menimbulkan perspektif ”new normal”. Awalnya, kata new normal hanya menjadi telaahan dalam dunia bisnis dan ekonomi. Adalah Roger McNamee, seorang investor teknologi, yang menyebut istilah tersebut. Dalam sebuah ulasannya terhadap kedudukan keuangan setelah krisis keuangan 2007–2008 dan setelah resesi global 2008–2012, McNamee mengkritisi para pebisnis yang terpesona oleh masa lalu serta dinilainya takut menghadapi masa ajaran (jika ada resesi lagi). Maka kemudian dia mengajak pebisnis lekas melupakan perubahan dan memasuki cara baru.

Sejak era itu, istilah new normal dimanfaatkan dalam sejumlah konteks lain buat menyiratkan bahwa sesuatu yang sebelumnya tidak normal bisa berubah menjadi sesuatu yang biasa. Kini, masa pandemi Covid-19, istilah tersebut mencuat kembali. Selama dan pasca pandemi Covid-19, para ahli menyatakan, akan tercipta situasi new normal ataupun perilaku manusia yang baru, yang berbeda dan berubah dari temperamen sebelumnya (old normal).

Jika pandemi Covid-19 nanti sudah, kondisi kehidupan manusia sangat barangkali tidak akan kembali seperti zaman prapandemi. New normal atau biasa baru adalah suatu waktu di mana sangat mungkin kita tumbuh dalam aturan kehidupan baru untuk jangka panjang. Perilaku baru yang merujuk protokol kesehatan kini menjelma tradisi keseharian.

Dalam menjalankan aktivitas sosial dan bisnisnya, kini orang semakin lebih mengandalkan sarana media sosial. Untuk menutup kebutuhan keseharian, kini orang tiba jarang melakukan komunikasi tatap muka (face-to-face). Orang kemudian menjadi berpegang pada tata cara komunikasi terakhir. Komunikasi online atau daring saat ini menjadi superpenting.

Peraturan cara kehidupan baru harus menjadi referensi penting bagi pemerintah dalam melakukan perubahan kebijakannya. Perhatian pada kebutuhan kesehatan masyarakat, infrastruktur komunikasi, serta transparansi layanan publik menetapkan disesuaikan dengan cepat. Demikian serupa halnya dalam soal regulasi ataupun perundang-undangan. Diperlukan pembaharuan secara cepat karena sangat dibutuhkan untuk mengatur sistem kehidupan new normal belakang.

Masyarakat perlu dipahamkan dan diajak beradaptasi dengan transisi menuju new normal ini. Di dalam perspektif new normal, yang awal dianggap normal mungkin ke pendahuluan tidak menjadi kebiasaan lagi. Bangsa harus diedukasi terus untuk mengarahkan kehidupan dengan cara baru. Mereka harus dibiasakan menerapkan protokol kesehatan.

Perubahan itu sungguh mengharuskan kita bisa menyesuaikan diri. Sebab, jika tidak mampu, kita bakal frustrasi. Bisa-bisa, jika tak move on, orang akan mengarungi sindrom masa silam. Kita seluruh mesti siap menghadapinya. Jika tak, kita hanya akan menjadi memori masa silam. Menjadi para mantan yang ketinggalan zaman.   (*)


*) Suko Widodo, Pengajar Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga

Saksikan video menarik berikut ini: